LIBERAL SEBUAH KESESATAN DARI MASA KE MASA

Sahabat dan para pembaca KCSU, setiap kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pengatur alam semesta. Tidak boleh ada keraguan tentang hal tersebut. Akan tetapi dalam kenyataan hidup ternyata masih kita dapati orang-orang yang menuhankan akalnya sehingga dalam kesehariannya selalu timbul pertanyaan-pertanyaan aneh dan nyeleneh seperti kenapa, bagaimana dan mengapa. Inilah akibat minimnya pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Hujurot [49]:1).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam  bersabda :
“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya yaitu Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnahku.” (HR. al-Hakim 1/172, lihat  Shohih al-Jami’ no. 2937 dan ash-Shohihah no. 1761).

Ketika masa semakin jauh dari zaman kenabian dan semakin banyak muncul fitnah, datang sebuah pemikiran atau paham bahwa akal harus didahulukan daripada wahyu (naqli) ketika keduanya bertentangan menurut pemahaman penganutnya. Paham mendahulukan akal dari pada naqli yang berarti pula mengkultuskan akal ini, jika kita teliti asal-usulnya, maka ia akan berujung pada Iblis la’natullah ‘alaihi. Dialah yang pertama kali menggunakan akalnya untuk menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dia bersama malaikat sujud kepada Nabi Adam ‘Alaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam ‘Alaihis salam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam ‘Alaihis salam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam ‘Alaihis salam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.(QS. al-A’raf [6]: 11-12).

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata:  
“Perbuatan menentang wahyu dengan akal adalah warisan Syeikh Abu Murroh alias iblis. Dialah yang pertama kali menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.” (Syarah al-Aqidah al-Thohawiyyah hal. 207).

Manhaj (metodologi) ini kemudian diwarisi oleh para pengikut iblis dari kalangan musuh para Rosul. Di antaranya adalah kaum Nabi Nuh ‘Alaihis salam yang melakukan penentangan terhadap dakwah beliau. Mereka berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu melainkan sebagai manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina dina di antara kami yang mudah percaya begitu saja. Kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’” (QS. Hud [11]: 27).

Yakni, orang-orang yang menentang Nabi Nuh ‘Alaihis salam berkata bahwa mereka (para pengikut Nabi Nuh ‘Alaihis salam) mengikuti beliau tanpa berpikir benar-benar (Tafsir as-Sa’di, hal. 380). Orang-orang kafir itu beralasan, mereka tidak mengikuti Nabi Nuh ‘Alaihis salam karena menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang rasionya maju dan berpikir panjang, sedang pengikut para Rasul berakal pendek. Hal yang sama terjadi pula pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Tokoh paham ini yang muncul di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah Dzul Khuwaishiroh. Dialah yang mengatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wahai Muhammad dan berbuat adil-lah (dalam hal pembagian).” (HR. Bukhori no. 1219).

Orang ini tahu akan keharusan berbuat adil tapi ia tidak tahu cara adil menurut syariat. Ia menyangkal cara pembagian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk orang-orang yang beliau maksudkan agar lunak hati mereka dengan pandangan akalnya, ia menganggap bahwa pembagian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam itu tidak adil walaupun Nabi membaginya dengan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda :  

“Dzat yang di atas langit telah mempercayaiku, sedangkan kalian tidak percaya kepadaku?” (HR. Bukhori no. 1219).

Sepeninggal Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam masih ada orang yang mewarisi pemikiran itu bahkan dikembangkan menjadi lebih sistematis. Mereka tulis dalam karya-karya mereka lalu dijadikan sebagai rujukan dalam banyak permasalahan. Maka jadilah akal sebagai hakim dalam berbagai masalah. Apa yang diputuskan akal, itulah yang benar. Dan apa yang ditolaknya maka itu tentu salah. Salah satu “ahli waris” dari paham ini adalah kelompok Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, manusia dengan semata akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan.
Al-Qodhi Abdul Jabbar (wafat tahun 415 H), salah satu tokoh terkemuka paham ini mengatakan ketika menerangkan urutan dalil:

“Yang pertama adalah dalil akal karena dengan akal bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berbicara kecuali dengan orang-orang yang berakal…” (Fadhlul I’tizal hal. 139, dinukil dari Mauqif al-Madrosah al-’Aqliyyah min as-Sunnah an-Nabawiyyah, 1/97).

Perkataan orang-orang Mu’tazilah ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits yang telah disebut di muka. Karena itu, alasan seperti ini tidak bisa diterima (karena salah), apapun alasannya. Lebih-lebih karena dalilnya juga cuma dari akal, di mana akal ini satu sama lain bisa berbeda pandangan (dalam memahami sesuatu). Lantas pandangan siapa yang mau dijadikan standar?.

Bahkan apa yang dia katakan itu “…karena dengannya bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk…” adalah pernyataan yang salah menurut dalil naqli dan akal yang sehat. Tidak secara mutlak demikian.
Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. asy-Syuro [42]: 52).

Jadi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri sebelum diberi wahyu tidak mengetahui perincian syari’at, tidak tahu mana yang baik dan yang buruk secara detail apalagi selain beliau.


Bagi yang berakal sehat, dia akan tahu, misalnya, bahwa sholat adalah sesuatu yang baik setelah diberi tahu syari’at. Tahu mencium Hajar Aswad itu baik, tahu melempar jumroh itu baik, tahu jeleknya daging babi sebelum ditemukan adanya cacing pita di dalammnya, dan banyak pengetahuan lainnya semua adalah dari syariat. Dengan demikian syariatlah yang menerangkan baik atau jeleknya sesuatu. Memang terkadang akal dapat menilai baik buruknya sesuatu namun hanya pada perkara yang sangat terbatas, seperti baiknya kejujuran dan jeleknya kebohongan. Dalam permasalahan lain, terutama dalam perkara aqidah dan ibadah, akal banyak tidak tahu bahkan butuh bimbingan wahyu untuk mengetahuinya.

Kita langsung melompat pada zaman akhir-akhir ini di mana muncul pula para pemikir semacam Muhammad Abduh. Orang ini berkata:
“Telah sepakat pemeluk agama Islam kecuali sedikit yang tidak terpandang bahwa jika bertentangan antara akal dan dalil naqli maka yang diambil adalah apa yang ditunjukkan oleh akal.” (al-Islam wan Nashroniyyah hal. 59 dinukil dari al-‘Aqlaniyyun hal. 61-62).

Ia kesankan pendapatnya adalah pendapat jumhur Umat, sedangkan pendapat lain (yang justru mencocoki kebenaran) merupakan pendapat minoritas yang tidak perlu ditoleh. Yang benar adalah sebaliknya. Justru pendapat seluruh Ahlus Sunnah dari dulu sampai saat ini dan yang akan datang, bahwa akal itu harus mengikuti dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedang mereka (orang-orang Mu’tazilah dan pengikutnya) adalah golongan minoritas yang tidak perlu dilihat orangnya dan pendapatnya.

Warisan iblis ini sampai sekarang masih ada dan sungguh benar perkataan orang Arab: “Likulli qaumin warits” (setiap kelompok/sekte itu ada yang mewarisi) dan sejelek-jelek warisan adalah warisan iblis, sehingga muncul berbagai pertanyaan di benak ini, yang mengingatkan kita pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. adz-Dza-riyat [51]: 53).

Pewaris ternama dalam penuhanan akal kinipun mulai menjamur. Diantaranya adalah mereka yang sok moderat padahal berotak bejat. Mereka adalah JIL, Jaringan Iblis Laknatulloh alias Jaringan Islam Liberal. Tokoh-tokoh mereka yang dengan seenak hati mempermainkan hukum syar’i yang mana hukum islam harus selaras dengan otak mereka yang tidak waras.

Aliran sesat yang marak lahir dalam beragam bentuk, mereka bela dengan alasan otoritas keagamaan. Mereka juga memiliki penafsiran sendiri terhadap al-Qur’an yang berdasarkan akal mereka karena menurut otak mereka yang tidak beres, setiap individu memiliki relativisme dalam memahami al-Qur’an.

Inilah buah buruk jika al-Qur’an dan al-Hadits tidak dipahami menurut pemahaman salaf as-sholeh dan ulama yang mumpuni dalam bidangnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur’an dan penjelasannya dengan mengutus malaikat yang utama dan dengan Rasul yang mulia, bayangkan saja kalau Islam ini berasaskan akal, setiap orang tentunya memiliki tata cara ibadah masing-masing, setiap daerahpun bebas berkreasi dalam peribadatan. Dan inilah yang akan menjadi bibit penyimpangan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kita jalan yang lurus dan mengistiqomahkan kita semua di jalan tersebut. 

(KCSU Team)

| | Read More »

Sahabat yang Menjadi Pelecut Semangat

Sahabat dan para pembaca KCSU dimanapun anda berada, manusia mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, utamanya teman pergaulannya. Karenanya Nabi bersabda, ”al-mar’u ’alaa diini khaliilihi”, (keadaan) seseorang itu tergantung agama temannya. Karakter ini tidak selalu berdampak negatif. Tergantung bagaimana cara dan kepada siapa seseorang bergaul. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengumpamakan teman pergaulan laksana makanan.

Di antara makanan ada yang mengandung racun, membahayakan tubuh jika dikonsumsi. Ada pula yang menjadi obat, diperlukan di saat sakit, tapi ditinggalkan dikala sehat. Dan ada pula makanan bergizi, yang secara rutin layak untuk dikonsumsi.

Begitulah halnya dengan sahabat. Pertama ada tipe ’racun’. Bergaul dengannya hanya mendatangkan kerugian. Tertular kebiasaan buruk, terpadam semangat untuk taat atau minimal ikut tercemar nama baiknya. Seperti bergaul dengan para pemalas yang akan menularkan kemalasan. Atau kepada para penyeru kesesatan yang akan mewariskan kesesatan. Juga orang-orang fajir yang cepat atau lambat akan menyeret teman-temannya kepada dosa dan kejahatan.

Yang Kedua adalah teman yang diumpamakan obat yang diperlukan dikala sakit. Seperti para relasi yang berhubungan dengan keperluan ma’isyah dan jual beli. Bermuamalah dengan mereka bisa menutup sisi kekurangan duniawi kita. Namun karena fungsinya sebagai obat, maka takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan dan melampaui batas yang justru akan menimbulkan madharat.

Teman Sejati Ibarat Nutrisi
Yang paling bermanfaat adalah teman yang diumpamakan layaknya nutrisi bergizi. Jika dikonsumsi secara teratur, kondisi tubuh menjadi fit, kekuatan tubuh terjaga dan seluruh fungsi tubuh berjalan secara sehat. Teman yang baik akan menginspirasi banyak kebaikan, mengingatkan disaat khilaf dan menguatkan di saat lemah. Teman semisal ini sesuai dengan apa yang diumpamakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai penjual minyak wangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau akan mencium aroma wangi darinya. Adapun bersama tukang pandai besi, bajumu bisa terbakar karena apinya, atau setidaknya engkau pasti akan mendapati bau tak sedap.” (HR Muslim)

Sahabat KCSU yang dirahmati Allah SWT pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan menguatkan keyakinan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Betapa sangat dibutuhkan teman seperti ini, apalagi di saat menghadapi pilihan yang sulit. Seperti yang pernah dialami Imam Ahmad bin Hambal saat mendapatkan intimidasi penguasa lantaran teguh dengan pendapatnya, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk.


Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam an-Nubala’ menuliskan penuturan Abu Ja’far al-Anbari,

”Telah sampai berita kepadaku bahwa Imam Ahmad ditangkap oleh al-Ma’mun. Maka aku segera menyeberangi sungai Eufrat. Setelah tiba, aku dapati Imam Ahmad di tempatnya dan kuucapkan salam kepadanya. Beliau berkata, ”Wahai Abu Ja’far, engkau telah menyusahkan dirimu.” Lalu aku berkata, ”Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin, dan kaum muslimin berada di  belakangmu. Jika Anda mengatakan al-Qur’an adalah makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan hal yang sama. Dan jika Anda tetap tegas mengatakan bahwa al-Qur’an itu (Kalamulllah) bukan makhluk, maka umat akan berpendapat sama.Sementara jika Anda tidak mati dibunuh oleh penguasa, toh Anda juga akan mati dengan cara yang lain. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan turuti kemauan mereka.”
Mendengar nasihat ini, Imam Ahmad menangis seraya berkata, ”Masya Allah! Wahai Abu Ja’far, ulangilah nasihat Anda.” Akupun mengulanginya dan beliau kembali mengucapkan, ”Masya Allah!”

Mencari Sahabat Pelecut Semangat
Sebagaimana dalam kontek keimanan, dalam hal menjaga semangat belajar, motivasi untuk berusaha dan antusias untuk mendapatkan kemaslahatan dan cita-cita luhur, teman juga memiliki pengaruh yang besar. Selayaknya kita banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki cita-cita besar, enerjik dan teguh pendirian. Karena berteman dengan mereka menjadi energi tersendiri untuk memupuk ’iradah’ (kemauan) yang mulia dan melecut semangat untuk meraih segala hal yang bermanfaat.

Kita bisa menengok sejarah para ulama. Kesuksesan mereka ternyata banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Keulamaan Ikrimah bin Abdillah, dipengaruhi oleh ’kehebatan’ majikannya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma. Salim bin Abdullah bin Umar yang banyak terinspirasi oleh keshalihan dan kefaqihan ayahnya, Abdullah bin Umar bin Khaththab.

Jika ada keterbatasan untuk mendapatkan teman yang mampu meletupkan semangat, maka kita bisa pula mengais inspirasi dengan bergaul bersama para ulama dan tokoh sepanjang sejarah. Yakni dengan membaca sejarah dan kisah-kisah mereka, sehingga kita seakan berteman dengan mereka. Inilah yang dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak rahimahullah, yang disebut-sebut sebagai ’amiirul mukminin fil hadiits’, pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal hadits.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita para sahabat yang bisa membantu dan menginspirasi kita meraih faedah di dunia dan akhirat. 

(Abu Umar Abdillah)

| | Read More »

Dengki dan Persaingan

Sahabat KCSU yang dirahmati Allah SWT sekecil apapun kadarnya, semua orang pernah merasakan kedengkian. Hanya saja sikap yang diambil ketika dengki mulai tumbuh, masing-masing orang berbeda. Ada yang segera memangkasnya, ada pula yang membiarkannya tumbuh menjadi pohon hasad yang berbuah kezhaliman.

Dengki dalam bahasa kita adalah perasaan tidak suka pada orang tertentu yang meraih atau mendapat suatu karunia. Dengki sering digunakan untuk memaknai hasad. Tapi hasad, sebenarnya, bukan hanya perasaan tidak suka tapi juga disertai keinginan agar nikmat tersebut berpindah tangan atau hilang darinya. Sehingga tak mengherankan jika hasad sering menjadi biang kerok dari berbagai tindak kezhaliman sebagai bentuk pelampiasannya. Sampai-sampai, ada ayat khusus yang memerintahkan manusia berlindung dari ulah pendengki (QS. Falaq; 5).

Sahabat Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah ada banyak hal yang bisa menyebabkan dengki; persaingan, dendam, sifat takabur, dan kebencian. Atau, dengki yang memang sudah mengurat akar menjadi karakter hati seseorang. Dimana hatinya senantiasa gelisah terhadap apapun yang didapatkan orang disekelilingnya dan ingin merampasnya.

Jika kita klasifikasikan menurut levelnya, dengki akan terbagi menjadi tiga level;

Pertama, perasaan tidak suka pada orang lain, tetangga atau saingan, atas nikmat yang diperoleh, namun perasaan ini segera diredakan. Rasa semacam ini muncul begitu saja dalam hati. Biasanya, hal itu disebabkan karena orang yang mendapat nikmat tersebut berada pada strata yang lebih rendah daripada dirinya dalam hal tertentu. Sehingga ketika dia mampu meraih atau mendapat sesuatu yang lebih, dengki pun muncul di hati. Akan tetapi karena segera diredakan – mungkin dengan instrospeksi diri bahwa setiap manusia memiliki nasibnya sendiri-sendiri misalnya-, kedengkian itu meredup dan padam. Maka, selamatlah ia.

Kedua, kedengkian yang dipendam dan dibiarkan membara dalam hati. Tidak segera diobati tapi juga tidak dilampiaskan. Memang, Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa asalkan tidak dilampiaskan, kedengkian tidak akan membahayakan. Namun seringnya, tidak dilampiaskannya dengki tersebut bukan karena tidak mau, tapi lebih karena tidak mampu. Kedengkian semacam ini, meski tidak memunculkan perbuatan buruk berupa kezhaliman tapi akan menyebabkan hati menjadi kotor. Ia seperti bom waktu yang meledak jika ada kesempatan. Intinya, rasa ini juga harus dihilangkan.

Ketiga, kedengkian yang dilampiaskan. Level pelampiasan dengki paling rendah adalah dengan ucapan. Saat melihat yang didengki mendapat nikmat, kedengkian mengontrol lidahnya untuk merajut kata-kata keji; fitnah, ghibah, komentar miring dan berbagai ungkapan ketidaksukaan. Level selanjutnya adalah kezhaliman. Bermula dari rasa dengki, berlanjut menjadi perampasan, pencurangan hingga pembunuhan. Ada banyak contoh dalam hal ini, mulai dari Kisah Adam-Iblis, Habil Qabil, Yusuf dan saudaranya dan contoh lain di sekitar kita.

Antara dengki dan persaingan
Dalam semua literatur, dengki selalu dimasukkan dalam kategori al akhlaq al madzmumah, atau akhlak yang tercela. Ketercelaan ini bisa kita lihat dari mana asal dengki ini tumbuh. Seperti yang sudah disebutkan, motivasi tumbuhnya kedengkian rata-rata adalah motivasi yang buruk. Bisa juga dari sisi pelampiasannya berupa berbagai tindak kedzaliman.

Namun, jika kita cermati, rasa dengki sebenarnya hanyalah salah satu kategori dari sifat manusia yang selalu ingin bersaing (kompetisi). Bedanya, hasad atau dengki memilih jalan kiri untuk meraih keinginan; cara-cara kotor dengan tujuan  merampas atau menghilangkan nikmat dari yang didengki dan berbagai tindakan tercela. Sedang persaingan (munafasah) secara umum, adalah semacam rasa iri dan ketidakrelaan untuk disamai atau disaingi, yang kemudian memicu semangat untuk melakukan/meraih hal yang sama atau lebih. Sehingga, motivasi berupa rasa iri ini tidak semuanya buruk. Statusnya mubah jika dalam urusan mubah. Misalnya persaingan dalam hal bisnis, prestasi akademik dan lainnya. Tentu saja jika cara yang digunakan bersih. Tak hanya mubah, bahkan jika persaingan tersebut dalam hal kebaikan, bisa menjadi persaingan yang berpahala atau at tasabuq bil khairat saling berlomba dalam kebaikan. Rasa iri dalam kebaikan disebut ghibtah.

Rasulullah bersabda,
“Tidak ada hasad atau iri –yang disukai– kecuali pada dua perkara; (yaitu) seorang yang diberikan pemahaman Al-Qur`an lalu mengamalkannya di waktu-waktu malam dan siang; dan seorang yang Allah beri harta lalu menginfakkannya di waktu-waktu malam dan siang.” (HR. Muslim).

Nabi menamakan rasa itu sebagai hasad sebagai bentuk majaz karena secara motivasi ada kesamaan yaitu ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Penjelasan panjang ini disarikan dari keterangan Ibnul Hajar dalam kitab Fathul Bari; 1/119 ketika menjelaskan maksud hadits di atas.

Tinggal Pilih
Nah Sahabat KCSU, dari dua kategori hasad ini, manakah yang sekarang tengah tumbuh dalam hati kita? Adakah kedengkian yang buruk yang hanya menyiksa dan memenjarakan hati dalam kegelisahan? Kita berlindung kepada Allah dari hasad ini. Ataukah hasad yang baik? Yang menjadi motivasi kuat bagi kita untuk berlomba dalam kebaikan?Atau jangan-jangan, kita tidak dengki pada siapapun, tapi juga tak pernah iri dan termotivasi dengan kebaikan dan prestasi orang lain? Semoga saja tidak, karena kondisi ini, bisa menjadi pertanda buruk bagi iman dan semangat keislaman kita. Wallahua’lam. 

(T. Anwar)

| | Read More »

Derita Abadi Karena Dengki

Sahabat Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah yang seiman, Gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang. Begitulah peribahasa Melayu menggambarkan keadaan orang yang menyimpan rasa dengki. Harapan ingin mendapatkan milik orang tak didapatkan, namun sesuatu yang menjadi milik sendiri dikorbankan. Karena sejatinya pendengki selalu rugi, tak ada keuntungan sedikitpun bagi pendengki. Bahkan, gambaran peribahasa tersebut belum cukup menggambarkan total kerugian orang yang dialami orang yang terjangkiti penyakit dengki.


Derita Para Pendengki
Tak ada yang lebih patut dikasihani melebihi orang yang menderita penyakit dengki. Jika umumnya manusia berpikir dan berbuat untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya, atau sekedar menyenangkan hatinya, tidak demikian halnya dengan pendengki. Tak ada keuntungan sedikitpun yang dihasilkan pendengki. Tak ada pula kesenangan hati yang dipanen oleh orang yang hasud.

Kerisauan hati yang tak putus-putus, dialami oleh pendengki saat melihat orang lain mendapat nikmat. Semakin banyak nikmat disandang orang lain, makin menguat gelisah hati pendengki. Ini tidak akan berakhir hingga nikmat tersebut hilang dari orang yang didengki, bahkan terkadang belum terobati juga rasa dengki itu sebelum orang yang didengki tertimpa banyak kerugian. Dari sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah Ta’ala menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya:

“Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)

Berbeda dengan kesedihan atau musibah yang dialami oleh orang yang bersabar, kegalauan yang terus menerus dirasakan oleh pendengki adalah musibah berat yang sama sekali tidak mendatangkan pahala, bahkan berpotensi menggerogoti kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar yang telah kering.
Nabi SAW bersabda,

“Hindarilah oleh kalian hasad, karena hasad bisa memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud)

Maksud memakan kebaikan adalah menghilangkannya, membakarnya dan menghapus pengaruhnya, seperti yag disebutkan dalam Kitab Faidlul Qadiir. Ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa sirna dalam sekejap jika terbakar oleh kedengkian. Makin besar api kedengkian, makin cepat melalap habis kebaikan. Al-Manawi di dalam at-Taisir bi Syarhi al-Jami’is Shaghir menjelaskan sebab dihilangkannya kebaikan pendengki adalah, “karena orang yang dengki itu berarti menganggap Allah Ta’ala jahil, tidak bisa memberikan sesuatu sesuai dengan proporsinya.” Ia menganggap Allah salah dalam mengalamatkan nikmat dan karunia. Seakan ia lebih tahu dari Allah tentang siapa yang lebih layak untuk mendapatkannya. Sehingga layaklah pendengki dihilangkan kebaikan-kebaikannya. Sungguh rugi para pendengki, selalu risau di dunia, terancam bangkrut di akhirat.

Membahayakan Diri dan Orang Lain
Efek kedengkian semakin parah ketika pendengki berambisi melampiaskan kedengkiannya. Makin kuat kedengkian dan ambisi melampiaskan, makin besar pula dosa dan bahaya yang ditimbulkan. Baik mengenai diri sendiri, maupun orang lain. Bahkan dosa pertama yang dilakukan oleh iblis disebabkan oleh dengki. Dia menganggap dirinya lebih layak mendapat penghormatan daripada Adam. Karenanya, Iblis berani menentang perintah Allah yang menyuruhnya bersujud. Jadilah iblis sebagai makhluk yang terkutuk, dan dipastikan bakal menempati neraka selamanya. Kedengkian berlanjut, Iblis berusaha dan akhirnya berhasil menggelincirkan Adam. Belum puas, Iblis bersumpah untuk menggoda dan menyesatkan semua keturunan Adam selagi mampu. Dari sini lahirlah segala bentuk kemaksiatan dan dosa yang merupakan syi’ar Iblis dan siasatnya untuk menjerumuskan anak Adam. Sekali lagi, ini bermula dari hasad. Maka hendaknya orang yang menaruh kedengkiannya kepada saudaranya segera menyudahi, sebelum melahirkan segala bentuk dosa yang belum terbayangkan sebelumnya.

Pembunuhan pertama yang terjadi di jagad raya yang dilakukan oleh Qabil terhadap Habil juga disebabkan oleh dengki. Qabil tak bisa menerima kenyataan atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepada Habil, saudara kembarnya. Dari sebab yang sepele ini, ketika dipicu oleh dengki, akhirnya berujung kepada pembunuhan yang dilakukan Qabil terhadap saudaranya.

Dan memang, umumnya kedengkian tertuju kepada orang-orang terdekat, saudara, keluarga, teman sejawat, tetangga dan orang-orang yang memiliki ikatan tertentu dengannya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling ingin mendapatkan satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada kepentingan yang mengikat satu sama lain.

Bila Hati Bersih dari Rasa Dengki
Kedengkian bermuara dari hubbud dunya, gandrung terhadap dunia. Baik berupa gila tahta sehingga ia dengki terhadap siapapun yang sedang memegang suatu posisi jabatan yang diinginkan. Atau karena ta’azzuz, gila hormat dan merasa diri lebih mulia. Ia keberatan bila ada orang lain lebih dihormati dari dirinya.

Bagi orang yang memiliki orientasi akhirat, juga ingin damai hatinya di dunia, tentu rasa dengki di hati segera dicampakkannya. Karena tak ada untungnya hati mendengki. Jika ternyata yang kita dengki akhirnya masuk jannah, maka bagaimana mungkin kita sakit hati dan dengki kepada orang yang ternyata menjadi penghuni jannah. Jika ternyata yang didengki masuk neraka, buat apa kita kita iri atas nikmat yang disandang oleh orang yang berakhir dengan pendertaan selamanya. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Sirin, 

“Apa untungnya saya mendengki orang atas sesuatu dari nikmat dunia, jika ia ahli jannah, maka bagaimana saya akan mendengkinya padahal ia ahli jannah? dan jika ia ahli neraka maka untuk apa dengki terhadap orang yang bakal masuk neraka?”

Bersihnya hati dari rasa dengki juga menjadi andalan amal Saad bin Abi Waqas, sehingga dijanjikan Nabi masuk jannah.

Sahabat Anas bin Malik RDL bercerita, Ketika kami sedang bermajlis bersama Nabi SAW, tiba-tiba belia bersabda, “Sekarang, akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang penghuni jannah.” Tak lama kemudian, seorang Sahabat Anshar di hadapan para sahabat dengan kondisi jenggotnya mengalirkan air bekas wudhunya, kejadian itu terjadi sampai tiga hari. Pada hari ketiga, ia diikuti oleh Abdullah bin Umar ke rumahnya, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan amal yang dilakukan orang itu. Akan tetapi Abdullah bin Umar tidak mendapatkan sesuatu yang istimewa pada amalan orang itu.Karena penasaran, beliau bertanya tentang amalan yang menjadi unggulannya. Sahabat Anshar itu menjawab, “Saya tidak memiliki kelebihan apa-apa selain yang kamu lihat. Hanya saja, tidak ada dalam hatiku rasa dendam terhadap sesama muslim dan tidak punya rasa iri (hasad) terhadap sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya.”
Allah juga memuji kelebihan sahabat Anshar yang tidak mendengki atas kaum Muhajirin yang mendapatkan banyak keistimewaan,

“Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr 9)

Yakni, tidak terdapat dalam hati mereka rasa iri dan dengki atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum muhajirin, berupa kedudukan, tingkatan, dan penyebutan yang mendahulukan Muhajirin ketimbang penyebutan Anshar.

Ya Allah jagalah hati kami dari sifat iri dan dengki. Amien.

(kcsu team)

| | Read More »

Doa Perbaikan Iman

اَللَّهُمَّ جَدِّدِ الِإيْمَانَ فِي قَلْبِي
“Ya Allah, perbaruilah iman dalam hatiku.”

Doa ini merupakan doa yang mengandung permohonan yang sangat penting bagi manusia. Setiap muslim pasti mencari dan berharap mendapatkanya, yang dimohonkan adalah untuk memperbaiki sekerat daging yang sangat penting dalam jasad manusia, yang Allah SWT akan menimbang dan menilai amal manusia dengan sekerat daging itu.

Maka apabila sekerat daging itu baik maka baiklah semuanya, namun bila rusak, maka rusaklah semuanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :



وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, pada setiap tubuh ada segumpal daging yang apabila baik maka baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” ( HR. Bukhari dan Musim)

Oleh sebab itu Islam menganjurkan kepada setiap muslim untuk meminta kepada Alloh perbaikan sekerat daging ini, yaitu dengan memasukkan iman yang baru ke dalam hatinya. Hal ini tidak dipintakan kepada selain Alloh, karena hanya Alloh saja lah yang menguasai hati manusia. Rasulullah SAW menjelaskan kepada sahabat yang bertanya apakah hati tidak tetap keadaannya dan bisa berbolak-balik, beliau menjawab :

مَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ بَشَرٍ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَإِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ اللَّهُ أَزَاغَهُ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari jemari Alloh. Jika Alloh berkekendak maka akan meneguhkan hati manusia atau  memalingkan hatinya.” (HR.Ahmad)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

إِنَّ الْإِيْمَانَ ليَخْلَقُ فِى جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَوْبَ فَاسْأَلُوْا الله َأَنْ يُجَدّدَ الإِيْمَانَ فِى قُلُوْبِكُمْ
“Sungguh, keimanan yang ada dalam hati kalian akan usang sebagaimana usangnya baju, maka mintalah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam hati kalian.” (HR. Thabraniy dan Hakim. Dihasankan oleh imam al Iraqiy)

Sebelum memerintahkan untuk berdoa dengan doa perbaikan iman, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memberikan perumpamaan yang membumi dan biasa dijumpai kebanyakan orang agar mudah dipahami. Yaitu usangnya baju karena sering dipakai, atau sering di cuci. Maka begitu juga dengan iman. Ia tidak akan tetap keadaannya, bisa naik dan turun. Bahkan bisa usang sebagaimana usangnya baju. Hal ini sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah yang menyatakan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan hamba kepada Alloh SWT dan berkurang dengan ketaatan hamba kepada syaiton.

Iman seorang muslim dapat menjadi usang dengan kemaksiatan yang dilakukan,  sedikitnya amal shaleh yang dikerjakan serta ketiadaan taubat setelah melakukan maksiat. Mu’adz bin Jabal berkata kepada sahabat yang lain ‘ijlis bina nukminu sa’atan’ marilah duduk-duduk sebentar untuk beriman kepada Allah. Hal ini tidak berarti Mu’adz RA tidak memiliki iman, tapi untuk menambah dan memperbarui keimanan kepada Allah SWT dengan berdikir kepadaNYa.

Dengan keburukan dan dosa yang selalu dikerjakan maka usanglah iman dan bertambahlah noda-noda, sehingga hati benar-benar jadi barang usang seperti hitamnya bagian panci yang selalu terkena api. Bila hati sudah hitam kelam, maka ia tidak akan mengenal kebaikan sebagai kebaikan tapi justru kebaikan disangka keburukan dan keburukan disangkanya kebaikan, nas alullah al afiyah wa qolban salimah.

Dalam doa ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menggunakan fi’il mudhari’ pada kalimat ‘an yujad dida’ yang menunjukkan sifat kontinyu dalam meminta iman yang baru, yang secara tidak langsung permintaan iman yang baru ini juga mengandung permintaan akan amal-amal shalih, keyakinan yang shahih dan dijauhkan dari syubhat dan bid’ah. Sehingga apabila seorang muslim benar aqidahnya, shalih amalnya dan jauh dari perkara syubhat dan syahwat, maka ia akan selalu memperoleh iman yang baru dalam hatinya, dan dengan iman yang baru ini selamatlah hatinya dari kerusakan.

Lafadz doa diatas memang bukanlah lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, namun 
tidak ada salahnya berdoa dengan menggunakan lafadz ini karena inti dari doa ini diperoleh dari perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam kepada kita untuk memohon kepada Allah supaya diperbarui iman dalam hati. Dan selama tidak ada lafadz yang khusus dari Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam maka kita boleh berdoa dengan lafadz yang semakna dengan perintah Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam diatas, kecuali jika ternyata ada lafadz yang bersumber dari Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam tentunya itu yang lebih utama dan kita pilih. 

(Taufik al hakim.Lc)

| | Read More »

Mau tau apa itu Kegagalan?

Seperti bayi yang tak diinginkan kelahirannya, tapi menjadi orang paling berguna ketika dewasa, daripada saudara-saudaranya. Tamsil ini barangkali cocok untuk mengibaratkan sebuah kegagalan. Kegagalan, adalah realita yang –tak dipungkiri- tidak pernah diinginkan kehadirannya, tapi ternyata membawa hikmah yang luar biasa di balik punggungnya. Meski demikian, wajar jika tak seroang pun pernah menginginkan kegagalan menyapa dirinya. Itu karena sang hikmah tak pernah mau menampakkan diri tepat pada saat kegagalan menghampiri.


Sahabat Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah pasti pada anda pernah mendengar atau mengalami yang namanya "Gagal". Dalam kamus bahasa indonesia artinya batal atau tidak jadi meraih sesuatu. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus membatasi makna gagal pada sesuatu yang tidak jadi atau batal terraih setelah adanya usaha maksimal. Sebab, kegagalan yang terjadi sebelum atau tanpa usaha maksimal, sejatinya bukanlah kegagalan tapi konsekuensi logis. Sebuah keniscayaan dari lemahnya usaha dan semangat. Batasan lainnya adalah sesuatu yang diusahakan tersebut bersifat mubah, bukan yang dilarang syariat. Dengan batasan ini, segala sudut pandang, filosofi dan motivasi –insyaallah- akan bisa benar-benar menyasar dan tak salah tempat.

Kegagalan Memang Menyakitkan
Dilihat dari sudut pandang fakta, kegagalan memang pahit rasanya bahkan mungkin menyakitkan. Betapa keringat yang telah keluar, waktu yang telah terkorban dan segenap usaha ternyata harus runtuh tak menghasilkan. Semua itu jelas bukan sesuatu yang langsung bisa dipersepsikan sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda. Dimana seseorang bisa tetap tenang dan tersenyum saat melihat kemunculannya. Karenanya, diperlukan manajemen berpikir yang baik untuk mengolah shock akibat kegagalan. Harapanya agar kegagalan tersebut bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan.

Pertama, sebelum kita berusaha menghibur diri dengan berusaha mencari filosofi-filosofi orang sukses mengenai kegagalan, kita harus sadari bahwa kegagalan itu bagian dari takdir. Takdir yang harus kita terima, karena semuanya telah terjadi. Ini penting disadari karena dengan memahami sepenuh hati bahwa semua itu telah menjadi kehendak-Nya dan telah berlalu, satu kekecewaan akan tertutup. Qadarallahu ma sya’a fa’ala, Allah telah menakdirkan demikian, apa yang Dia kehendaki pasti kan terjadi. Seseorang tidak perlu kembali ke masa silam untuk mengubah keadaan. Ia hanya perlu memulai yang baru, untuk menemukan akhir seperti yang diinginkan, biidznillah.

Kedua, kegagalan itu bukan aib dan bukan sesuatu yang memalukan. Kesalahan itu wajar. Kata orang, kesalahan hanyalah sesuatu yang menegaskan bahwa kita masih layak disebut manusia. Persepsi ini akan membuat hati kita tenang. Mengapa? Karena hantu paling menakutkan bagi manusia adalah tersingkapnya aib dan keburukan. Jika kegagalan dalam usaha bukan sesuatu yang tercela, maka untuk apa ditakuti? Lagipula,  mencela kegagalan sebenarnya hanyalah mencela masa lalu. Perbuatan yang sama sekali tidak berguna.

Ketiga, silahkan mencari berbagai filosofi untuk membangun positif thinking dalam menghadapi sebuah kegagalan. Ada banyak kata-kata bijak yang bisa kita renungi darinya. Misalnya: “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Karena kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari kesuksesan. Tidak ada usaha maksimal yang benar-benar mengalami kegagalan. Kegagalan hanyalah lampu merah bahwa ada yang salah dalam usaha kita. Sedang kesalahan akan semakin menegaskan yang benar dan membuatnya semkain kontras. maka sebenarnya “Kegagalan adalah guru besar orang-orang sukses”. Ada lagi yang mengatakan, hitunglah kegagalan seperti menghitung umur. Secara bilangan bertambah, tapi haikikatnya berkurang. Artinya secara jumlah (kali) kegagalan memang bertambah; sekali, dua kali, tiga kali dst. Tapi secara hakikat berkurang karena semakin banyak gagal, semakin banyak pelajaran yang diambil dan semakin dekatlah tangga kesuksesan. Karenanya, benralah jika dikatakan, “kesuksesan, sejatinya adalah anak tangga terakhir kegagalan”.

Pada akhirnya, apakah kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan atau tidak, semua bergantung dari sikap si penerima trofi kegagalan. Ia bisa memilih antara;

  • Menolak; tidak terima, mencari kambing hitam, mencari pembenaran diri dan berhenti. Dengan ini kegagalan adalah anak tangga patah yang benar-benar membuatnya terjerembab tak mampu bangun lagi. Bukan yang menjadikan kakinya melangkah lebih panjang menuju anak tangga berikutnya.
  • Menerima tapi melakukan kesalahan yang sama. Sikap keras kepala yang tidak akan membuahkan –jelas- tidak akan membuahkan kesuksesan.
  • Menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan suntikan penyemangat. Dan inilah yang akan menjadi kebangkitan yang nyata.
Kegagalan Hakiki
Kegagalan, apapun bentuknya selagi masih di dunia bukanlah kegagalan yang yang sebenarnya. Masih ada peluang untuk meraih keberhasilan. Asalkan tetap ada semangat, kerja keras dan kecerdasan untuk belajar dari kegagalan. Sehingga kegagalan bukanlah lembar terakhir dari buku kehidupan. Gagal lulus sekolah, bukan berarti masa depan suram. Banyak pengusaha kaya yang memiliki ‘pengalaman buruk’ dalam hal akademik. Gagal mendapat jodoh impian, tidak berarti harus membujang. Masih ada yang lain, yang sangat mungkin jauh lebih baik dan berbagai kegagalan yang lain. Intinya kegagalan bukanlah akhir segalanya.

Kegagalan yang sesungguhnya adalah kegagalan dalam berusaha untuk menjadi hamba yang layak mendapat ridha-Nya. Kegagalan sejati adalah ketika seseorang benar-benar gagal, bangkrut dan tak memperoleh nilai di akhirat dari apa yang telah diusahakannya di dunia. Allah berfirman,
“Bekerja keras lagi kepayahan, -tapi- memasuki api yang sangat panas (naar).”, (QS. Al Ghasiyah:3-4)
Profil manusia paling gagal adalah manusia yang tidak beriman. Betapapun baiknya, betatapun dermawannya dan betapapun santunya ia di dunia, tetap saja dia akan gagal mendapatkan balasan dari kebaikannya di akhirat.  Profil yang lain adalah seorang muflis, manusia bangkrut yang benar-benar bangkrut. Rasulullah bersabda,
“Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, sedekah dan shiyam. Tapi ia telah mengumpat ini, memukul si ini dan memakan harta si ini. Lalu diambilah kebaikannya untuk si ini dan si ini. Jika kebaikannya habis sebelum impas, kesalahan mereka akan diberikan kepadanya, lalu ia dijebloskan ke neraka.” (HR. Bukhari Muslim)

Maka, selagi masih di dunia, tidak ada kata gagal dan tidak perlu khawatir mengalaminya jika kita mampu memaknai kegagalan dengan benar. Yang harus kita waspadai adalah jangan sampai kita mengalaminya di akhirat. Karena akhirat adalah lembaran terakhir dari kisah perjalanan hidup kita. Wallahua’lam.

(kcsu team)

| | Read More »

Rubah Kebiasaanmu!

Sahabat seiman Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah, Hidup adalah pilihan. Apa yang ingin dan tidak ingin kita kerjakan, kembali kepada keputusan kita; baik buruknya, pantas tidaknya, dan untung ruginya. Namun yang sering kita lupa, bahwa nilai diri dan hidup kita, sebenarnya, adalah akumulasi dari berbagi pilihan itu.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa proses yang akumulatif itu sering menyajikan fakta-fakta mengejutkan. Bahwa hal yang tampak sepele dalam sekali pelaksanaannya, menjadi sangat berarti dalam pengulangannya sekian tahun ke depan. Baik maupun buruk. Hal yang sering membuat kita terkejut-kejut.

Membaca al-Qur’an beberapa ayat sehari bisa tampak sangat remeh, tapi tidak jika terakumulasi dalam sekian tahun. Sebatang rokok yang kita hisap setiap hari, jelas akan sangat memengaruhi kesehatan kita dalam beberapa tahun di muka. Bukankah tidak menjadi kecil, dosa-dosa yang dibiasakan, meski tampak sepele?

Kita faham bahwa kebiasaan menunda-nunda, berkomunikasi secara buruk, lebih suka bicara daripada mendengar, sibuk bekerja hingga waktu untuk keluarga sempit, egois dan banyak lagi yang lain adalah hal yang buruk? Tapi mengapaa banyak di antara kita yang masih saja membiasakannya? Hingga kita sangat menghajatkan pendidikan untuk hal-hal yang bahkan sudah jelas.

Maka, cerdas memilih kebiasaan harian, kemudian berusaha istiqamah dalam pilihan itu adalah prestasi tersendiri yang tidak bisa diremehkan. Selain karena kita memang jarang merenung untuk berfikir tentang masa depan, juga karena kita sering tidak berdaya untuk mengubah kebiasaan buruk, meski kita tahu akibat yang akan timbul, karena sudah mengakar kuat dalam perilaku keseharian kita. Rasulullah menyatakan bahwa hamba yang cerdas adalah dia yang bisa mengendalikan nafsu dan bisa beramal untuk hidup sesudah mati.

Artinya, kita bisa kehilangan kecerdasan jika tidak mengontrol keinginan nafsu. Hanyut dalam kenikmatan instan yang disajikan, hingga bersikap masa bodoh tentang berbagai kemungkinan buruk di masa mendatang. Atau kita hanya berfikir hari ini, dunia ini, dan lupa bahwa ada akhirat yang menjadi hari pertanggungan jawab.

Maka, menjadikan muhasabah atau instropeksi diri sebagai kebiasaan akan menjamin kita berada dalam jalur kebaikan. Kemudian melakukan kebiasaan baik dan tekun melaziminya meski tampak sulit. Kelak, dalam rentang waktu yang lama, kita akan memanen hasilnya dengan manis. Karena apa yang kita biasakan akan menjadi akhlak kita. Akan membentuk integritas diri kita.

Kebiasaan menjadi 90 % perilaku normal kita. Sesuatu yang sering kita perbuat hingga menjadi mudah, dan memberi perasaan nyaman karena kita lakukan tanpa perlu pemikiran yang mendalam. Ia berjalan secara mekanik, menggambarkan diri kita dari sisi lahiriahnya. Bagaimana kita bangun tidur, berpakaian, sarapan, menyapa, menggosok gigi, menata meja, menyelesaikan masalah, bersikap di dalam rapat dan ratusan bahkan ribuaan perilaku kita yang lain, adalah buah dari apa yang kita putuskan untuk kita biasakan.

Di sisi lain, meski membuat perasaan kita nyaman, sebuah rutinitas yang terlalu banyak, bisa menjebak kita kepada rasa puas diri yang berujung kepada kebosanan. Seringkali dengan keadaan standar yang menghambat keluarnya potensi diri yang sebenarnya. Karena kita menjadi malas dan miskin berkreasi, terlanjur nyaman dengan apa yang sudah ada.

Tapi, bagaimana jika banyak dari kebiasaan kita adalah hal yang buruk, bahkan ia bisa memengaruhi orang-orang lain di sekitar kita? Karena sebagai suami, apa yang kita kerjakan dan biasakan, apalagi ia buruk adanya, tentu sedikit banyak akan berpengaruh kepada anak-anak dan istri-istri kita. Sedang banyak di antara kita yang enggan untuk merubahnya. Memang sulit jika dibayangkan, namun insyallah mudah jika kita memiliki tekad yang kuat dan komitmen yang tinggi.

Al-jazaa’ min jinsi al-‘amal, balasan akan sebanding dengan kerja, begitu kira-kira. Sebuah sunatullah yang harus kita yakini agar kita memiliki tekad yang kuat untuk berubah. Karena kita ingin memanen hasil yang baik, dan takut mendapat akibat yang buruk. Dan itu ditentukan oleh apa yang akhirnya lakukan. Juga konsistensi kita dalam pengerjaannya.

Konsistensi penuh dan sungguh-sungguh untuk hasil yang maksimal. Tidak bisa setengah-setengah apalagi apa adanya. Karena jika kita mendapat tekanan dan stres, sangat mungkin kita akan kecewa, putus asa, hingga akhirnya kembali kepada kebiasaan lama. Untuk kemudian semuanya menjadi sia-sia. Maka kita harus fokus, disiplin dan kuat.

Secara umum, sebuah kebiasaan baru membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu agar menjadi mudah bagi kita. Meski ia juga tergantung pada kedalaman sebuah kebiasaan buruk yang sudah mengakar di dalam diri kita. Semakin lama ia sudah menjadi bagian dari kebiasaan kita, semakin sulit upaya untuk merubahnya meski bukan berarti tidak bisa.

Untuk itu, selain menguatkan akidah dan mempertajam ilmu tentang tujuan hidup agar kita memiliki tekad yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik, dukungan orang-orang sekitar, terutama keluarga sangat dibutuhkan. Para pendukung yang tulus, sebab mereka mengharapkan kita, suami dan ayah mereka, menjadi yang terbaik sebagai imam mereka.
Iman akan membimbing kita kepada cita-cita hidup yang tinggi, memampukan kita menjalani kesulitan dan penderitaan sebab harapan kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat telah terpatri dengan kuat di dalam dada.

Kita ingin menjadi hamba Allah yang baik, dan itu dimulai dari hal-hal baik yang kita yakini, ucapkan, serta biasakan dalam pengamalannya. Allah tidak akan merubah kita jika kita tidak merubah diri kita sendiri. Tapi, mulai kapan kita bersungguh-sungguh untuk memulainya?

(kcsu team)

| | Read More »