Mendidik Anak Berkarakter Positif Penuh Tanggungjawab


Nafasnya terengah-engah. Keringat bercucuran di dahinya. Badannya basah kuyup dengan peluh. Namun, senyumnya mengembang menyambut kedua orangtuanya yang baru saja pulang dari kantor. Dengan bangga ia bercerita, “Papa, Mama, lihat, aku berhasil mendorong sepeda. Aku kuat ‘kan Ma? Aku berhasil mendorong sepeda sampai tiga putaran!”

Bapak dan ibunya tersenyum sekaligus terpana melihat polah anak sulungnya tersebut. Bagaimana tidak, sepeda yang didorongnya itu sepeda milik anak mereka dan anak perempuan yang berada di atas sadel sepeda dan didorong-dorong oleh anak mereka itu… anak pembantu mereka!

Namun, kedua orangtuanya memutuskan untuk tidak memarahi anak sulung mereka itu. Mereka justru menyuruh anak laki-laki mereka itu untuk mandi dan berganti pakaian. Juga bukan sekali dua kali mereka melihat anak sulung mereka itu justru memberikan makanan bagiannya pada anak pembantunya, meski si anak pembantu telah diberikan makanan yang sama juga dalam porsi yang sama.

Ketika besar, anak laki-laki sulung itulah yang selalu berusaha bertanggung jawab melindungi adik-adiknya. Dia juga yang bekerja keras melakoni semua usaha hingga bisa meringankan beban kedua orangtuanya yang hanya berpenghasilan pas-pasan dalam membiayai pendidikan keempat adiknya. Bukan atas permintaan orangtuanya tetapi atas kesadarannya sendiri sebagai seorang kakak dan sebagai seorang laki-laki yang “lebih kuat”.

Tak hanya itu, ketika kemudian bisnisnya berkembang pesat, tangannya ringan membantu kaum dhuafa. Tak hanya karena kedermawanan tetapi ia juga bersusah-payah mendirikan organisasi sosial yang menaungi relasi antara para hartawan sebagai orangtua asuh dan anak-anak dhuafa sebagai anak asuhnya.

Tumbuh dari Usia Dini

Begitulah, pribadi dan perilaku yang positif tentunya tak akan muncul tiba-tiba. Semuanya melalui proses yang membuat pribadi positif itu tumbuh dan berkembang. Bila saja di masa kecilnya, orangtua anak tersebut justru memarahi anaknya yang mendorong-dorong sepeda (dengan anak pembantu yang malah duduk di atasnya) atau melarang anaknya memberikan makanan kepada anak pembantunya, kemudian menegaskan posisinya sebagai majikan dan anak pembantu itu adalah pelayan, tentu anak laki-laki itu tak akan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mudah berbagi seperti sekarang.

Segala sesuatunya memang dimulai dari kita sebagai orangtua dan bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita sedari kecil. Menanamkan kesadaran untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tentu juga tak cukup dengan sekadar memberikan ceramah tentang pentingnya menjadi orang yang bertanggung jawab, tanpa memberikan contoh, dorongan, dan kesempatan bagi anak untuk bisa bertanggung-jawab atas hal-hal yang harus dilakukannya.

Bila dalam kisah di atas, anak laki-laki tersebut diberikan kesempatan untuk bertanggungjawab atas kenyamanan permainan mereka sebagai anak lelaki yang lebih pantas untuk mendorong, maka kita juga bisa memberikan kesempatan pada anak-anak balita kita untuk makan sendiri, walaupun sedikit mengotori lantai. Atau, membiarkan anak-anak kita yang telah duduk di kelas 5 atau kelas 6 SD untuk mencuci pakaian mereka sendiri. Walau mungkin, kita harus terus memandunya hingga mereka bisa mencuci pakaian dengan tingkat kebersihan yang diharapkan.

Bersabar dalam Kasih sayang

Percayalah bahwa anak-anak bahkan bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan caranya sendiri. Cara yang mungkin menurut kita tak biasa. Namun justru membawa dampak yang luar biasa bagi jiwanya karena lahir dari inisiatif dan kemampuannya. Bersabarlah sejenak untuk berusaha memahami mereka, kemudian doronglah mereka untuk melakukan yang lebih baik dengan bimbingan dan kasih sayang. Sebagaimana Allah SWT berfirman,
Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran” (Qs. Al-Ashr 1-3).
Mari menggunakan waktu yang kita miliki sekarang untuk membangun pribadi dan perilaku positif anak di masa depan. Jangan sampai, hanya karena kemarahan sesaat dan ketidaksabaran yang tidak mampu kita redam, kita dan anak-anak kelak menuai kerugian di masa datang. Yaitu generasi yang tak mampu bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, generasi yang lemah, serta generasi yang tak mampu menggerakkan hati mereka untuk membahagiakan orang lain. Bersabarlah dan bimbinglah diri kita serta anak-anak kita untuk selalu mengambil hikmah dalam kasih-sayang. [Ummu Arina/voa-islam.com]

| | Read More »

Rubah Kebiasaanmu!

Sahabat seiman Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah, Hidup adalah pilihan. Apa yang ingin dan tidak ingin kita kerjakan, kembali kepada keputusan kita; baik buruknya, pantas tidaknya, dan untung ruginya. Namun yang sering kita lupa, bahwa nilai diri dan hidup kita, sebenarnya, adalah akumulasi dari berbagi pilihan itu.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa proses yang akumulatif itu sering menyajikan fakta-fakta mengejutkan. Bahwa hal yang tampak sepele dalam sekali pelaksanaannya, menjadi sangat berarti dalam pengulangannya sekian tahun ke depan. Baik maupun buruk. Hal yang sering membuat kita terkejut-kejut.

Membaca al-Qur’an beberapa ayat sehari bisa tampak sangat remeh, tapi tidak jika terakumulasi dalam sekian tahun. Sebatang rokok yang kita hisap setiap hari, jelas akan sangat memengaruhi kesehatan kita dalam beberapa tahun di muka. Bukankah tidak menjadi kecil, dosa-dosa yang dibiasakan, meski tampak sepele?

Kita faham bahwa kebiasaan menunda-nunda, berkomunikasi secara buruk, lebih suka bicara daripada mendengar, sibuk bekerja hingga waktu untuk keluarga sempit, egois dan banyak lagi yang lain adalah hal yang buruk? Tapi mengapaa banyak di antara kita yang masih saja membiasakannya? Hingga kita sangat menghajatkan pendidikan untuk hal-hal yang bahkan sudah jelas.

Maka, cerdas memilih kebiasaan harian, kemudian berusaha istiqamah dalam pilihan itu adalah prestasi tersendiri yang tidak bisa diremehkan. Selain karena kita memang jarang merenung untuk berfikir tentang masa depan, juga karena kita sering tidak berdaya untuk mengubah kebiasaan buruk, meski kita tahu akibat yang akan timbul, karena sudah mengakar kuat dalam perilaku keseharian kita. Rasulullah menyatakan bahwa hamba yang cerdas adalah dia yang bisa mengendalikan nafsu dan bisa beramal untuk hidup sesudah mati.

Artinya, kita bisa kehilangan kecerdasan jika tidak mengontrol keinginan nafsu. Hanyut dalam kenikmatan instan yang disajikan, hingga bersikap masa bodoh tentang berbagai kemungkinan buruk di masa mendatang. Atau kita hanya berfikir hari ini, dunia ini, dan lupa bahwa ada akhirat yang menjadi hari pertanggungan jawab.

Maka, menjadikan muhasabah atau instropeksi diri sebagai kebiasaan akan menjamin kita berada dalam jalur kebaikan. Kemudian melakukan kebiasaan baik dan tekun melaziminya meski tampak sulit. Kelak, dalam rentang waktu yang lama, kita akan memanen hasilnya dengan manis. Karena apa yang kita biasakan akan menjadi akhlak kita. Akan membentuk integritas diri kita.

Kebiasaan menjadi 90 % perilaku normal kita. Sesuatu yang sering kita perbuat hingga menjadi mudah, dan memberi perasaan nyaman karena kita lakukan tanpa perlu pemikiran yang mendalam. Ia berjalan secara mekanik, menggambarkan diri kita dari sisi lahiriahnya. Bagaimana kita bangun tidur, berpakaian, sarapan, menyapa, menggosok gigi, menata meja, menyelesaikan masalah, bersikap di dalam rapat dan ratusan bahkan ribuaan perilaku kita yang lain, adalah buah dari apa yang kita putuskan untuk kita biasakan.

Di sisi lain, meski membuat perasaan kita nyaman, sebuah rutinitas yang terlalu banyak, bisa menjebak kita kepada rasa puas diri yang berujung kepada kebosanan. Seringkali dengan keadaan standar yang menghambat keluarnya potensi diri yang sebenarnya. Karena kita menjadi malas dan miskin berkreasi, terlanjur nyaman dengan apa yang sudah ada.

Tapi, bagaimana jika banyak dari kebiasaan kita adalah hal yang buruk, bahkan ia bisa memengaruhi orang-orang lain di sekitar kita? Karena sebagai suami, apa yang kita kerjakan dan biasakan, apalagi ia buruk adanya, tentu sedikit banyak akan berpengaruh kepada anak-anak dan istri-istri kita. Sedang banyak di antara kita yang enggan untuk merubahnya. Memang sulit jika dibayangkan, namun insyallah mudah jika kita memiliki tekad yang kuat dan komitmen yang tinggi.

Al-jazaa’ min jinsi al-‘amal, balasan akan sebanding dengan kerja, begitu kira-kira. Sebuah sunatullah yang harus kita yakini agar kita memiliki tekad yang kuat untuk berubah. Karena kita ingin memanen hasil yang baik, dan takut mendapat akibat yang buruk. Dan itu ditentukan oleh apa yang akhirnya lakukan. Juga konsistensi kita dalam pengerjaannya.

Konsistensi penuh dan sungguh-sungguh untuk hasil yang maksimal. Tidak bisa setengah-setengah apalagi apa adanya. Karena jika kita mendapat tekanan dan stres, sangat mungkin kita akan kecewa, putus asa, hingga akhirnya kembali kepada kebiasaan lama. Untuk kemudian semuanya menjadi sia-sia. Maka kita harus fokus, disiplin dan kuat.

Secara umum, sebuah kebiasaan baru membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu agar menjadi mudah bagi kita. Meski ia juga tergantung pada kedalaman sebuah kebiasaan buruk yang sudah mengakar di dalam diri kita. Semakin lama ia sudah menjadi bagian dari kebiasaan kita, semakin sulit upaya untuk merubahnya meski bukan berarti tidak bisa.

Untuk itu, selain menguatkan akidah dan mempertajam ilmu tentang tujuan hidup agar kita memiliki tekad yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik, dukungan orang-orang sekitar, terutama keluarga sangat dibutuhkan. Para pendukung yang tulus, sebab mereka mengharapkan kita, suami dan ayah mereka, menjadi yang terbaik sebagai imam mereka.
Iman akan membimbing kita kepada cita-cita hidup yang tinggi, memampukan kita menjalani kesulitan dan penderitaan sebab harapan kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat telah terpatri dengan kuat di dalam dada.

Kita ingin menjadi hamba Allah yang baik, dan itu dimulai dari hal-hal baik yang kita yakini, ucapkan, serta biasakan dalam pengamalannya. Allah tidak akan merubah kita jika kita tidak merubah diri kita sendiri. Tapi, mulai kapan kita bersungguh-sungguh untuk memulainya?

(kcsu team)

| | Read More »

I Luv U karena Allah, Saudariku

Seandainya boleh memilih, ketika ancaman kematian sudah di depan mata, Anda ingin menghadapinya bersama siapa? Sudah pasti dengan orang yang paling dekat di hati Anda. Suami, ibu, ayah, anak, adik, kakak, abang, sahabat…. Salah satu orang yang terdekat itu bisa jadi adalah saudari Anda. Saudari sedarah. Saudari seiman. KCSU Team kali ini mengajak Anda membincangkan sisterhood – persaudaraan Muslimah.



Santi Soekanto, pemimpin redaksi Majalah Aulia, mengalaminya beberapa tahun lalu (31 Mei 2010). Di detik-detik menjelang kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang ia tumpangi bersama suaminya menuju Gaza, akan diserang dan dibajak oleh tentara Zionis Israel, ia terpisah dari suaminya.

Menurut penuturannya sendiri, waktu itu ia tidak panik. Salah satunya karena ia merasa sedang bersama 600-an orang saudaranya sendiri para relawan dari berbagai negara.

Seorang gadis Turki berusia 20-an, bernama Beyza, menarik tangannya dan mengajaknya duduk berlutut di dek kabin berhadap-hadapan. Dengan bahasa Arab gadis itu memintanya untuk berdoa bersama menghadapi kemungkinan terburuk. Beyza tidak minta didoakan supaya selamat dari serangan Zionis Israel. Gadis itu minta Santi mendoakannya agar mati syahid di jalan Allah pagi hari itu di tengah laut Mediterania….

Santi merasakan sejuknya persaudaraan yang tulus menyelusup di relung qalbunya. Mereka berdua, bersama sekitar 120-an perempuan di kapal kemanusiaan itu, berkumpul dan berlayar meninggalkan tanah airnya masing-masing bukan mau berbisnis mengejar keuntungan atau mendapatkan ketenaran selebriti. Mereka merengkuh sekuat tenaga keikhlasan mencari ridha Allah saja.

“Kami bersaudara di detik-detik menyambut ancaman kematian…” kenang Santi. Sebuah persaudaraan yang tak tergoyahkan oleh granat, peluru, gas air mata, bayonet, dan borgol serdadu angkara yang dengan penuh nafsu menyerang kapal Mavi Marmara dan lima kapal lainnya di subuh buta itu.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, mengibaratkan persaudaraan seperti itu dengan kalimat yang mantap, “Seorang mu’min terhadap mu’min (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Di dalam Islam, persaudaraan karena iman sangat vital. Disebut Ukhuwwah Islamiyah, yang makna lengkapnya adalah “Persaudaraan karena Islam, di dalam Islam, dan dengan cara-cara sesuai tuntunan Islam.”

Salah satu ciri seorang Muslim, ialah mengikuti perintah dan anjuran Allah dan Rasul-Nya untuk memperkuat ikatan persaudaraan sesama Muslim. Sebaliknya, setiap Muslim juga akan sekuat tenaga untuk menjaga jangan sampai tindakan atau kata-katanya akan memutuskan persaudaraannya dengan Muslim atau Muslimah yang lain.

Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu mengisahkan kejadian penting tentang hal ini. Suatu sore pada hari Arafah, ketika beliau duduk bersama sahabat lain mengelilingi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturrahim, silakan berdiri, jangan duduk bersama kami.” Dan ketika itu, di antara yang hadir hanya ada satu yang berdiri, dan itu pun duduk di kejauhan. Kemudian lelaki itu pergi dalam waktu yang tidak lama, setelah itu ia pun datang dan duduk kembali.

Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam pun bertanya kepadanya, “Di antara yang hadir hanya kamu yang berdiri, dan kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa sesungguhnya yang terjadi?”
Lelaki itu menjawab, “Begitu mendengar sabda Engkau, saya segera menemui bibi saya yang telah memutuskan silaturrahim dengan saya. Karena kedatangan saya tersebut, ia berkata, ‘Untuk apa kamu datang, tidak seperti biasanya kamu datang kemari.’ Lalu saya menyampaikan apa yang telah Engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampunan untuk saya, dan saya meminta ampunan untuknya (setelah kami berdamai, lalu saya datang lagi ke sini).”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam pun bersabda kepadanya, “Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan turun ke atas suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturrahim.”

Persaudaraan Islam adalah kekuatan Islam. Hati dengan hati. Perasaan dengan perasaan. Cinta dengan cinta. Adalah batu bata yang bertumpuk-tumpuk membentuk bangunan ummat Islam yang kokoh, saling melengkapi dan menguatkan.

Kalau ada saudaranya yang memiliki kekurangan, saudaranya yang lain melengkapi dan menyempurnakan. Bukan mencela dan mencaci, atau bahkan memutuskan persaudaraan di antara mereka. Kalau ada saudara Muslim yang mengalami sakit maka saudaranya merasakan juga penderitaannya, dan menolongnya dengan sungguh-sungguh.
 
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikan ibarat lain tentang kokohnya bangunan persaudaraan antarsesama Muslim dan mu’min, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (Hadits riwayat Muslim)
 
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam juga merangkum kebaikan ukhuwwah itu, “Tidak ada satu kebaikan pun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturrahim, dan tidak ada satu dosa pun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, di samping akan diperoleh di akhirat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturrahim.”

Asisten pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rizqinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturrahim.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya seorang sahabatnya, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga.”
Beliau menjawab, “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturrahim.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Silaturrahim atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “Tali Kasih Sayang” adalah wujud adanya tali persaudaraan yang lebih mahal dan kokoh daripada tali persaudaraan darah semata-mata.
Seharusnya, di belahan bumi manapun, tidak ada satu pun hubungan cinta antara ibu dan anak, atau ayah dan anak, atau kakak dan adik, atau suami dan istri, atau mertua dan menantu yang bisa menandingi hebat dan kokohnya hubungan antara dua orang yang sama-sama beriman kepada Allah, kepada para malaikat, kepada Al-Quran, kepada para Nabi dan Rasulullah, kepada Hari Kiamat, dan kepada Taqdir (ketetapan) Allah.

Allah sendiri yang menetapkan rumus ini, “Sesungguhnya orang-orang beriman (mu’minin) itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Al-Quran surah Al-Hujurat: 49 ayat 10)

Hari ini saat terbaik merestorasi cinta kita kepada saudari-saudari kita sesama Muslimah dan mu’minah. Pandanglah mereka dengan tatapan iman dan Islam yang jernih. Lalu katakan dengan penuh kasih sayang, “Saudariku, aku mencintaimu karena Allah… Ya Ukhti, Uhibbuki fillaah…”

Lalu mintalah kepada Allah agar hari-harimu berikutnya adalah keasyikan mewujudkan cinta-cinta itu. Inilah sebuah cinta yang tak akan mengecewakan selama-lamanya. Cinta yang tidak mengharap balasan dari siapapun kecuali dari Sang Mahacinta, Allah. Hasilnya akan kita petik terus-menerus di dunia, dan panennya akan kita rengkuh besar-besaran di akhirat.*

Best Sister,
Best Treatment

(kcsu team)

| | Read More »

Panduan Memilih Rumah Islami

Berada di lingkungan Islami, dikelilingi tetangga shalih dan dekat dengan masjid adalah deretan daftar yang perlu diperhatikan saat memilih rumah. Apa lagi, ya, yang perlu dipertimbangkan dalam memilih rumah?
"Kemana, ke mana, kemana... kuharus mencari kemana?" Ghulam, anak Intan yang berusia empat tahun terus menggumamkan lirik lagu dangdut yang tengah popular tersebut. Intan tentu saja gusar. Seingatnya, ia telah berusaha menjaga sang anak dari pengaruh televisi atau pertemanan yang kurang baik.

Intan lantas berkisah pada suaminya, yang ternyata juga prihatin akan hal yang sama. "Mungkin, kita perlu cari kontrakan baru, Dik. Jangankan Ghulam yang otaknya masih seperti spons, menyerap apa saja yang dia lihat atau dengar. Mas juga kalau sedang mengaji jadi terganggu sama lagu-lagu dangdut itu, "ujar Agung serius.

Kegundahan Intan dan Agung bersumber dari satu hal. Hanya berjarak bebarapa meter dari rumah kontrakan mereke, kini dibangun sebuah aula desa. Setiap akhir pekan, dari pagi hingga tengah malam, alunan lagu-lagu dangdut terdengar dari aula tersebut. Mengapa demikian? Tentu saja karena banyak yang masih salah kaparah tengant hakikat walimatul 'ursy! Sehingga setiap ada pernikahan digelar di sana, selalu penuh nyanyian dan tarian. Astaghfirullah.


Intan menghela nafas, "iya, Mas. Adik setuju. Sambil menabung untuk membeli rumah yang ideal bagi keluarga kita. Memang sebaiknya kita pindah ke kontrakan lain."

"Bismillah, Dik. Yuk, cari yang dekat masjid. Rasanya Ghulam sudah Cukup umur untuk Mas ajak ke masjid," Agung tersenyum manis. Intan membalasnya, tidak kalah manis.

Tidak hanya Intan dan Agung. Banyak Muslim dan Muslimah lain yang berkeinginan memiliki tempat tinggal yang Islami. Nisrina, misalnya. Sejak diterima di Institut Teknologi Bandung beberapa bulan lalu, ia masih menumpang di kamar kos kakak sepupunya. Akan tetapi, rumah kos kakak sepupunya yang bercampur antara lelaki dan perempuan mebuatnya tidak nyaman. Nisrina ingin pindah! Kalau bisa, ke kosan khuss Muslimah yang ada jadwal tahajud-nya. Atau Salahuddin, yang setelah menabung selama sepuluh tahun, ingin membelikan rumah untuk istri dan kedua anaknya. Puluhan brosur perumahan sudah ia pelajari satu per satu. Akan tetapi, ia masih saja bingung. Banyak yang ia pertimbangkan, desain rumah, akses kendaraan umum, keamanan, lokasi masjid, hingga tetangganya.

Bagaimana, ya, Islam mengajarkan kita dalam membeli rumah, memilih kontrakan, bahkan kamar kos?

Memilih Pasangan Shalih
Ini tahap pertama yang harus diperhatikan sebelum memilih rumah. Lho, apa hubungannya memilih rumah dengan pasangan shalih? Bagi yang belum menikah, mencari pasangan yang hidupnya berorientasikan ridha Allah adalah hal utama untuk mewujudkan rumah Islami kelak. Sayang apabila rumah kita sudah berada dekat dengan masjid, namun sang suami tidak terpanggil hatinya untuk melangkahkan kaki ke rumah Allah.

Bagi yang alhamdulillah telah dikaruniai pasangan yang insya' Allah shalih atau shalihah, bersama saling membimbing dan memperbaiki diri agar semakin dekat dengan Allah juga merupakan hal utama sebelum mencari rumah Islami. Dengan demikian, rumah nantinya tidak hanya berwujud bangunan fisik, melainkan rumah penuh kebahagiaan, madrasah generasi unggul yang didambakan ummat, dan penuh rahmat.

Tetangga atau Lingkungan yang Baik
Setelah memilih dan saling membimbing pasangan untuk bersama menshalihkan diri, hal paling krusial lainnya adalah memilih tetangga atau lingkungan yang baik. Hal ini diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam dalam hadits riwayat Al Khatib, "Pilihlah tetanga sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian)." Rasulullah Shallallahu'alayhi wa sallam bahkan juga berdoa: "Ya Allah, aku berlindungan kepada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat pemukiman." (Hadits riwayat Ibnu 'Asakir).

Bayangkan saja apabila memiliki tetangga yang berakhlak buruk, selain hati kita tidak nyaman, sulit bagi kita menjalin silaturrahim yang penuh manfaat dengannya. Pun kasihan anak-anak karena tidak mendapat teladan yang baik. Akan tetapi, alangkah indahnya apabila kita berada dalam lingkungan yang penuh nilai-nilai Islam, akrab, saling menolong, dan senantiasa mengajak kepada kebaikan.

Beberapa pengembang perumahan sekarang juga menyasar kebutuhan akan lingkungan yang baik bagi Muslim dan Muslimah. Di antaranya adalah Bumi Darussalam di Depok dan Bukit Adz-Dzikra di Sentul, keduanya di Jawa Barat. Bumi Darussalam memulai pembangunan dengan membangun masjid di tengah tengah komplek hunian sebagai tempat utama para penghuni menyatu dalam ibadah dan berinteraksi antara satu warga dengan warga penghuni lainnya. Tujuannya, dibangunnya masjid akan memudahkan penghuni melangkahkan kaki untuk menunaikan kewajibannya. Uniknya, masjid dibangun dekat dengan pusat-pusat kegiatan lainnya, seperti taman bermain atau fasilitas olah raga.

Sementara Bukit Adz-Dzikra, dengan tokoh sentral Ustadz Arifin Ilham yang juga tinggal disana, serius merancang program-program rohani di kompleks tersebut. Masjid Muammar Qaddafy yang berada di depan kompleks menjadi tempat berbagai pengajian dan acara keislaman. Selain itu, penghuni kompleks juga diharuskan shalat berjamaah di masjid dan dilarang merokok.

Berlokasi Dekat Masjid
Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Shalat seseorang dengan berjamaah itu melebihi shalatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian pergi kemasjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan shalat maka para malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada di tempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon, 'Ya Allah limpahkanlah kesehatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya'. Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalt sementara menantikan tiba waktu shalat". (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu)

Alangkah menyenangkannya apabila setiap waktu shalat kita dapat mendengar adzan dari masjid dekat rumah. Lalu sang ayah mengajak anak lelaki untuk bersegera ke masjid, sementara ibu dan anak perempuan berjamaah di rumah. Selain itu, di masjid juga biasanya diadakan pengajian dan kegiatan sosial lainnya yang akan lebih mudah diikuti anggota keluarga apabila lokasinya berdekatan.

Luas dan Indah
Lalu apa lagi pertimbangan saat akan memilih rumah Islami? Abila Allah memberi rizqi untuk bisa memilih rumah yang cukup luas maka kita dapat menerapkan konsep pemisahan ruang tamu untuk lelaki dan perempuan. Juga dapat menjalankan pula ajaran Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam untuk memisahkan kamar anak lelaki dan perempuan, kamar privat untuk suami istri, hingga sekat yang menjaga agar asisten rumah tangga terjaga auratnya.

Rumah luas juga memudahkan keluarga dalam menyediakan mushala, perpustakaan, taman untuk anak anak bermain, hingga kolam renang keluarga yang melindungi aurat anggota keluarga. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda mengenai hal ini,
"Di antara kebahagiaan seorang Muslim ialah mempunyai tetangga yang shalih, rumah yang luas, dan kendaraan yang meriangkan." (Hadits riwayat Ahmad dan Al Hakim)

juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah berdoa, "Ya Allah, ampunilah disaku, luaskanlah rumahku, berilah barakah dalam rizqiku!" Kemudian beliau ditanya, 'Mengapa doa ini yang banyak engkau baca, ya Rasulullah?' Maka jawab Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam : 'Apa ada sesuatu yang lain yang kamu cintai?" (Hadits riwayat An-Nasa'i dan Ibnu Sunni)

Selain itu, yang juga amat penting, tatalah rumah agar tampak rapi dan indah. Seperti apa pun rumah yang atas izin Allah sanggup kita sewa atau beli, tindakan sederhana membersihkannya setiap hari, menghias dengan kaligrafi, atu menata taman cukup untuk mewujudkan rumah nan cantik. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam, "Sesungguhya Allah indah dan senang kepada keindahan." (hadits riwayat Al-Baihaqi)

"Sesungguhnya Allah itu baik, Dia suka kepada yang baik. Dia juga bersih, suka kepada yang bersih. Dia juga mulia, suka kepada yang mulia. Dia juga dermawan, sangat suka kepada yang dermawan. Oleh karena itu bersihkanlah halaman rumahmu, jangan kamu menyerupai orang-orang Yahudi." (Hadits riwayat Tarmizi) 
Fungsional dan Syar'i
Rumah luas dan indah bukan berarti bermewah-mewahan. Sifat qana'ah (merasa cukup) dan sukap sederhana akan menjadi hati tersa lebih tenang. Dengan demikian, kita tidak merasa perlu membentengi rumah kita dengan pagar berduri setinggi tiga meter hanya agar bisa tidur nyenayak. Lagipula, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)". (Al-Quran surat At-Takatsur 102 ayat 1-3) 
Bagian dari tidak bermegah-megahan adalah menjaga agar apa yang ada dalam rumah kita hanyalah barang-barang fungsional yang kita perlukan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, "Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "sebagian tanda dari baikna ke-Islaman sesorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat." (Hadits riwayat Tirmidzi)

lalu bagaimana memilih rumah yang syar'i? Pertama, carilah rumah yang dapat menjaga aurat anggota keluarga. Pintu masuk bisa dibuat menyamping dan tidak langsung memperlihatkan isi kamar. Kemudian, kamar anak perempuan dan lelaki haruslah terpisah. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika berusia sepuluh tahun (bila belum mau mengerjakan sholat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan). " (Hadits riwayat Abu Dawud)
Ke dua,  jagalah hijab dengan penghuni rumah yang bukan mahram, ini adalah hal penting yang sering terlupakan. Asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti saudara tetap saja bukan mahram. Jadi, kita harus menyediakan hijab yang layak untuknya, seperti kamar dan kamar mandi yang melindungi auratnya. Hal yang sama berlaku kepada saudara sepupu yang tidak sepersusuan dan saudara ipar.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu'anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian menjumpai wanita-wanita (yang brukan mahram)," Lalu ada seseorang bertanya, "Ya, Rasulullah, bagaimana (hukumnya) dengan ipar?" Beliau bersabda, "Saudara ipar itu mau." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Ke tiga, tetapkanlah ruang untuk shalat yang layak. Pilih tempat yang kita akan nyaman berlama-lama sujud dan ruku' kepada Allah. Ruang tersebut juga harus terjamin bersih dari najis.

Ke empat, kloset kamar mandi tidak boleh menghadap ke kiblat atau membelakanginya. Ini sesuai hadits Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam berikut, "Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, "Apabila engkau ke kamar kecil (toilet), janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar." (Hadits riwayat Muslim)

Jangan Libatkan Hal-hal Syirik
Sebagian dari masyarakat Indonesia masih percaya tentang hari baik untuk pindah rumah berdasarkan primbon (kitab yang mengajarkan berbagai pertimbangan dalam urusan kehidupan sehari-hari, yang tidak berdasarkan kepada Islam).
Seperti misalnya, pindahan pada hari Jum'at Kliwon itu Demang Kandhuwuran atau tidak baik. Padahal, Jum'at adalah hari baik menurut Islam. Tidak ada hari yang buruk. Karena itu, jangan libatkan hal-hal syirik semacam ini ketika akan memilih rumah.

Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa dalam memilih rumah harus memerhatikan Feng Shui. Baik dari segi lokasi, arah menghadap rumah, hingga penempatan perabotan. Padahal, selama rumah tersebut dapat menutupi aurat penghuninya, kloset tidak menghadap atau membelakangi kiblat, dan diperoleh dari harta yang halal, insya' Allah rumah tersebut baik. Kita tidak perlu dan tidak boleh berpedoman pada kompas atau topografi cina Kuno yang tidak ada dalilnya tersebut.

Salah satu yang menjadi mitos adalah bahwa rumah bernomor 13 atu berposisi tusuk satu akan membawa kesialan juga tidak boleh kita yakini. Ustadz Ahmad Sarwat, Lc dalam situsnya menjawab pertanyaan seseorang terkait posisi rumah tusuk sate. Sang penanya bingung menjelaskan kepada keluarganya bahwa tidak ada yang salah dengan rumah berposisi tusuk sate yang akan dibelinya.

Ustadz Sarwat menuturkan, sebagai Muslim, kita wajib percaya bahwa tidak ada yang bisa mencelakakan kita kecuali atas izin Allah Ta'ala.

Kepercayaan bohong itu dikembangkan oleh para syaitan yang pekerjaannya memang menipu manusia dan membisikkan kpercayaan jahat di dalam hati manusia. Hanya saja seringkali dikemas dengan nama dan istilah yang berbeda-beda. Terkadang kepercayaan syirik itu dianggap sebagai nasehat orangtua sehingga seolah kalau tidak dipercayai akan menimbulkan bencana tertentu. Apabila masih ada orangtua yang memercayai hal ini maka dapat kita jelaskan dengan baik-baik.

Undanglah Malaikat Rahmat
Setelah memilih rumah maka pastikan Malaikat Rahmat berkenan masuk ke rumah kita. bagaimana caranya? Selain menjaga agar nilai-nilai ke-Islaman selalu hadir dalam aktivitas kita, jangan pelihara anjing dan jangan letakkan lukisan dan patung menyerupai mahluk bernyawa. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, "Malaikat (pembawa) rahmat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar."

Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam menegaskan ini sewaktu beliau pulang dari bepergian, lalu mendapati di tengah rumah terdapat tabir bergambar. Beliau memanggil istrinya, Aisyah radhiyallahu 'anha dan bersabda, "Hai Aisyah! Sekeras-keras siksa manusia pada hari kiamat adalah yang menyaingi bikinan Allah." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Aisyah radhiyallahu 'anha pun segera memotong-motong tabir tersebut dan dijadikan bantal.

Rumah Akhirat

Hal terakhir yang perlu diingat dalam memilih rumah, apabila kita mempertimbangkan dan merencanakan dengan serius saat akan memilih rumah di dunia maka kita harus lebih serius dalam merencanakan rumah kita di akhirat kelak. Rumah yang akan abadi menjadi tempat tinggal kita. Kita tentu mau punya rumah yang berdekatan dengan Rasulullah, berpemandangan telaga Kautsar di syurga Firdaus nan teramat indah, bukan? Karena itu, mari siapkan juga juga rumah di akhirat nanti.

Mulailah berpikir dan berhitung, apa saja yang diperlukan untuk membangun rumah di syurga? Mata uang apa yang dapat digunakan untuk membeli bahan-bahannya? Apa saja yang harus jkita lakukan untuk mendapatkan mata uang tersebut? Juga, bagaimana caranya agar kita berhak mendapat kavling' di syurga? Renungan ini perlu kita tanyakan terus menerus sehingga setelah kita mewujudkan rumahku syurgaku di dunia, suatu saat kita dapat mengatakan, "Syurga ini rumahkau." Aamiin ya rabbal 'alamiin.

(wb-kcsu team)

| | Read More »

Apa Kabar, Jodohku?

Apa kabar jodohku?
Apakah kau juga sedang terjaga malam ini?
Apakah kau juga sedang memanjatkan doa kepada Ilahi di sepertiga malam ini?
Dan apakah mulut dan hatimu terus menerus berzikir disaat ini?
 
Begitu sangat aku merindukanmu, wahai jodohku....
Berharap kau segera datang menjemputku. 
Tapi mungkin saat ini belum saatnya yang tepat untuk kita bertemu.


Walau aku sungguh mau, Walau aku sungguh ingin,
Namun takdir kehidupan mengharuskan kita untuk berjalan lebih lama dan masih banyak kewajiban yang harus kita emban dan kita lakukan.

Apa kabar jodohku?
Apakah kebaikan sedang melingkupi hatimu saat ini?
Apakah kedamaian bersama Allah sang maha pengasih telah mengisi hari- harimu hingga kini?
Bagaimana dengan Quranmu?.
Sudahkah kau berakrab dengannya hari ini?
Ceritakanlah kepadaku..
Aku berharap bisa mendengarnya. ..

Apa kabar jodohku?
Sehatkah kau saat ini?
Lalu episode apa yang sedang kau jalani sekarang?
Jujur, rasanya lelah aku menunggumu.
Sampai- sampai aku berharap, 
Ketika mata ini terbuka, kau telah berada duduk disebelahku,
Kau tersenyum dan membangunkan aku.
Bersama kita bertafakur serta bersujud kepadanya.

Apa kabar jodohku?
Berat hati ini menantikanmu, gelisah pula hati ini memikirkanmu.
Jika saja sekarang kita telah halal dalam ikatan suci, 
Aku akan merawatmu dengan penuh kasih sayang.
Maka doakanlah...
Agar aku sabar menunggu, agar kau pun juga bersabar menunggu. Tenanglah....
Aku disini masih bersabar menanti mu, maka kaupun seharusnya begitu.

Jodohku...
Bilakah kita akan bertemu?
Pasti kita akan bertemu.
Namun sekarang, bahagiakanlah dahulu orang tua dan orang- orang yang menyanyangimu.
Namun sekarang, penuhilah dahulu segala kewajibanmu.
Dan perbaikilah kekuranganmu.
Maha suci Allah yang pasti akan memberikan kita kebahagiaan
Disaat dan waktu yang tepat

Jodohku....
Aku yakin, bila laki- laki yang baik adalah untuk wanita yang baik dan wanita yang baik adalah untuk laki- laki yang baik.
Maka bisakah kau bantu aku dengan doamu, agar aku mampu membaikkan dan memperbaiki diriku?
Dan, sudahkah kau sendiri berdoa dan berusaha agar hidup dan dirimu terasa lebih baik?
Semoga kelak saat kita bertemu, aku dapat menjadi hadiah untukmu.
Seorang istri yang senantiasa menyenangkanmu.
Semoga di akhir penantian kita nanti,
Kebahagiaan dan kedewasaan batin dari sebuah pribadi, sudah kita miliki.

Jodohku...
Semoga kau tak selalu memenuhi hari dan hatimu hanya dengan aku.
Semoga tetaplah Allah yang menjadi raja di kalbumu.
Dan doakanlah agar akupun berlaku yang sama.
Agar pertemuan kita nanti benar-benar berada dalam ridhoNya.

Jodohku...
Jangan risau dengan lamanya waktu,
karena aku insyaAllah adalah sebuah kepastian untukmu.
Bukankah kau juga yakin bahwa Allah menciptakan makhluknya berpasang- pasangan?.
Maka jangan risau dengan lamanya menunggu.
Jangan pula kau belokkan arah hidupmu pada keputusasaan.
Yakinlah, semua hanya masalah waktu.
Waktu yang pasti akan ada ujungnya.
Dan karena Allah tidaklah sedang mendholimi hambanya.
Maha suci Allah yang pasti akan memberikan kita kebahagiaan
disaat dan waktu yang tepat.

(Syahidah/Voa)

| | Read More »

Pacaran Dalam Pandangan Islam

Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik. 

Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

Pacaran Bukan Cinta
 

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
 

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu. 
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
 
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber : Pusat Konsultasi syariah

| | Read More »

Jadi, Masihkah Kita tidak Mau Bersabar?

Aku bukan orang sabar

Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin menumpuk dan memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang justru semakin merunyamkan suasana. Mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil karya diri yang justru merendahkan.  
sabar, pelajaran jiwa yang mungkin mudah di ucapkan namun sangat sulit sekali untuk di realisasikan. Namun disanalah justru letak salah satu keabadian. Cerita kebaikan yang akan abadi saat pelakunya sudah tiada, efek kebaikan yang abadi saat pelakunya masih bernafas ataupun telah berkalang tanah. Karena siapa yang dapat membunuh mati kemuliaan jiwa orang- orang yang sabar? Malah yang ada adalah, jiwa liar kita semakin lelah, dan semakin bingung disaat harus ber benturan dengan manusia yang serba sabar. selanjutnya, rasa malu dan kerendahan diri akan menjadi efek samping yang akan pasti menjadi hak milik kita. Hak milik kita, dan bukan dia. 
Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah. 
Bersabar adalah alternatif termudah dari sebuah jalan keluar bagi manusia yang tidak mampu menemukan jalan keluar. dan sabar adalah justru satu- satunya pertahanan yang paling kuat, ketika seseorang tidak mampu lagi mengatasi masalahnya. 
Bersabar adalah saham yang anda tanam di masa depan, atas sebuah nilai kemuliaan dan ketinggian derajat diri anda pribadi.
Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah. 
Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan. 
Maka berbahagialah ketika masih ada dari batin kita yang berteriak protes dan mengatakan bahwa kita belumlah menjadi orang yang sabar. Hal itu berarti bahwa jiwa kebaikan masih hidup dalam diri kita. Dan mungkin sebenarnya kehendak kita sendirilah, suara kebaikan itu mati. Entah karena ketidakmauan kita menindak lanjuti "pemberitahuan" mereka, atau ketidaktahuan kita atas ilmu untuk menyikapi suara " pengumuman" tersebut. Dan maka benarlah bahwa Allah adalah maha membolak- balikkan hati, maka tidak ada yang patut untuk bermohon tentang supaya meneguhkan hati untuk mudah berkarib dengan kebaikan, kecuali hanya kepada Allah. 
Berbahagialah ketika masih sempat kita bermohon kepadanya, karena kita menyadari akan kesempatan kita yang masih ada untuk memohon. Bayangkan jika kehendak itu baru muncul setelah nafas sudah hampir lepas dari tenggorokan. Apa jadinya pula ketika permohonan itu baru melekat di mulut kita tapi setelah kita berada di alam kubur dan bertemu dengan  para malaikat? Maka jangan banyak salahkan diri anda terus menerus karena  sabar, yang pertama yang harus diterapkan justru adalah kepada diri sendiri. rasa sesal dan terpuruk tanpa ada kelanjutan untuk bangkit, hanya akan membawa kita semakin terpuruk. Namun juga jangan kasihani diri dengan terlalu, karena hal itu juga akan menjadi poin tambahan yang melembekkan jiwa dan mengikis semangat.
Bersabar adalah sama sekali bukan tentang sifat, tapi adalah tentang sebuah keputusan. Maka buatlah keputuskan anda!.
Pandai bersabar adalah juga bukan bakat, tapi logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat.  karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?
Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”. Hal inilah yang membentuk jiwa ramah mereka untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan Allah untuk menyulitkan Kita.
Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang akhirnya semakin merunyamkan suasana. Atau mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil karya diri yang justru merendahkan.  

Sabar, pelajaran jiwa yang mungkin mudah di ucapkan namun sangat sulit sekali untuk di realisasikan. Namun disanalah justru letak salah satu keabadian. Cerita kebaikan yang akan abadi saat pelakunya sudah tiada, efek kebaikan yang abadi saat pelakunya masih bernafas ataupun telah berkalang tanah, dan lain sebagainya. Karena, siapakah yang dapat membunuh mati, kemuliaan jiwa orang- orang yang sabar? Malah yang ada adalah, jiwa liar kita semakin lelah, dan semakin bingung disaat harus berbenturan dengan manusia yang serba sabar. Selanjutnya, rasa malu dan kerendahan diri akan menjadi efek samping yang akan pasti menjadi hak milik kita. Menempel sebagai citra kita, dan bukan dia. 

Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah. 
Bersabar adalah alternatif termudah dari sebuah jalan keluar bagi manusia yang tidak mampu menemukan jalan keluar. Dan sabar adalah justru satu- satunya pertahanan yang paling kuat, ketika seseorang tidak mampu lagi mengatasi masalahnya. 

Bersabar adalah saham yang anda tanam di masa depan, atas sebuah nilai kemuliaan dan ketinggian derajat diri anda pribadi.

Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah. 
Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan. 

Maka berbahagialah ketika masih ada dari batin kita yang berteriak protes dan mengatakan bahwa kita belumlah menjadi orang yang sabar. Hal itu berarti bahwa jiwa kebaikan masih hidup dalam diri kita. Dan mungkin sebenarnya kehendak kita sendirilah, suara kebaikan itu mati. Entah karena ketidakmauan kita menindak lanjuti "pemberitahuan" mereka, atau ketidaktahuan kita atas ilmu untuk menyikapi suara " pengumuman" tersebut. Dan maka benarlah bahwa Allah adalah maha membolak- balikkan hati, maka tidak ada yang patut untuk bermohon tentang supaya meneguhkan hati untuk mudah berkarib dengan kebaikan, kecuali hanya kepada Allah. 

Berbahagialah ketika masih sempat kita bermohon kepadanya, karena kita menyadari akan kesempatan kita yang masih ada untuk memohon. Bayangkan jika kehendak itu baru muncul setelah nafas sudah hampir lepas dari tenggorokan. Apa jadinya pula ketika permohonan itu baru melekat di mulut kita tapi setelah kita berada di alam kubur dan bertemu dengan  para malaikat? Maka jangan banyak salahkan diri anda terus menerus karena  sabar, yang pertama yang harus diterapkan justru adalah kepada diri sendiri. rasa sesal dan terpuruk tanpa ada kelanjutan untuk bangkit, hanya akan membawa kita semakin terpuruk. Namun juga jangan kasihani diri dengan terlalu, karena hal itu juga akan menjadi poin tambahan yang melembekkan jiwa dan mengikis semangat.

Bersabar adalah sama sekali bukan tentang sifat, tapi adalah tentang sebuah keputusan. Maka buatlah keputuskan!.

Pandai bersabar adalah juga bukan bakat, tapi perenungan seorang pemilik logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat.  Karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?

Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”. Hal inilah yang kemudian membentuk jiwa ramah dalam diri kita untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan dari Allah untuk menyulitkan Kita. Dan sebagai hasil akhir, kedamaian pun akan selalu meliputi jiwa.
Jadi, masihkah kita tidak mau bersabar?  

(Syahidah/voa-islam)

| | Read More »

Jika Anak Suka Membantah

Bagaimana pendapat anda ketika si kecil sangat mudah membantah apapun perkataan anda? atau sikap apa yang harus dilakukan ketika anak selalu mengemukakan sanggahan yang membuat kita sebagai orang tua semakin marah dan sering kali tak tahan untuk tidak memukul?

Hal pertama yang harus diketahui oleh orang tua adalah, bahwa ternyata sikap membantah anak bukan murni terjadi karena kesalahannya. Banyak orang tua yang tidak memberikan kesempatan mengutarakan pendapat dan pikirannya. Sehingga, tipe orang tua yang terlalu memaksakan kehendak anaknya itulah, yang justru paling rawan untuk membentuk karakter anak- anak mereka sebagai tiruannya,yaitu memiliki sifat otoriter dan suka memaksa.

Maka dari itu, koreksi diri juga diperlukan para orang tua. Karena sadar atau tidak, terkadang orang tua juga memberikan argumen dan logika orang dewasa ketika berbicara dengan mereka, menuntut mereka melakukan apa yang orang tua inginkan, dan tidak memberi kesempatan anak memberikan pendapat tentang cita- citanya sendiri.

Ya, ternyata anak- anakpun juga sangat ingin dimengerti, dihargai, dan dipahami perasaan dan pendapatnya.
Berikut beberapa langkah yang harus kita lakukan ketika anak-anak kita mulai suka membantah:

1. Kesempatan Bicara

Perhatikan ketika dia mulai berbicara dengan anda, karena hal ini mengindikasikan bahwa anda memberinya kesempatan untuk mengungkapkan ide dan pikirannya. Namun,jika hal itu adalah  menyangkut sesuatu yang prinsip yang menurut anak anda masih juga bisa ditawar,bicaralah dengan lemah lembut tanpa nada marah.

2. Beri pilihan yang tidak di sukai
 

Jika anda menjumpai bahwa anak anda tetap ngotot membantah, maka berikanlah pilihan yang tidak disukainya. Misalnya "mau ke masjid, atau mama ambil gamenya?”. pilihan yang menyenangkan hanya akan membuatnya tetap membantah, karena ia tidak ingin melakukan atau mendapatkan apa yang tidak disukainya.

3.Jangan Ulagi pilihan yang sama


Jadilah orang tua yang konsisten dan lakukan apa yang sudah anda katakan kepadanya, meskipun pilihan tersebut adalah tidak enak baginya. Karena, jika Anda tidak melaksanakan apa yang anda ucapkan, dia akan menganggap Anda remeh. Memang hal ini akan membuat anak-anak anda menggerutu di awalnya, tapi selanjutnya, anak- anak akan menentukan pilihan-pilihan yang terbaik baginya tanpa harus memilih sesuatu yang tidak enak karena membantah Anda.

4. Ubah pola didik

Jangan menakut- nakuti anak anda kecuali jika hal itu diperlukan, karena hal itu juga bisa mematikan sifat anak yang selalu ingin tahu. Orang tua perlu memberi jeda waktu kepada anak agar mencoba dan memacu kreativitasnya sendiri, sehingga akhirnya anak dapat belajar sendiri akibat baik dan buruknya tentang segala sesuatu, juga terbiasa untuk berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu.

Kurangi juga hal yang terkesan menyudutkan dan terlalu mendiktenya. terkadang sebagai orang tua, kita perlu memberinya kesempatan untuk memilih, hal tersebut berguna untuk melatihnya
bersikap mandiri dengan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. selain itu, jika anak berhasil mmengatasi kesulitannya sendiri, dia akan merasa lebih berharga.
Orang tua cukup memberikan motivasi atau rambu- rambu ketika anak melakukan suatu sikap. Dengan demikian, ia akan berusaha untuk menampilakan yang terbaik yang mereka bisa.

5.Komunikasi

Komunikasi adalah cara paling efektif untuk mengetahui alasan apa saja yang dapat menyebabkan anak membantah perkataan orangtua.Ketika orang tua membuka komunikasi lambat aun anak juga akan membuka diri untuk mengungkapkan penyebab dan alasan mengapa mereka mempertahankan pendapatnya. Dengan komunikasi, orangtua dan anak akhirnya dapat menemukan jalan keluarnya bersama-sama.

Selain komunikasi,disiplin yang menyenangkan, terbuka namun konsisten, akan mempermudah penyelesaian kasus bantah membantah yang dilakukan anak. Karena, ketika anak sudah diminta untuk mentaati peraturan, dan orangtua juga konsisten melakukan kesepakatan,kemungkinan untuk anak memberikan masukan kepada  orang tua juga akan semakin terbuka.

Jika suasana terasa menyenangkan bagi anak dan semua anggota keluarga, pembentukan karakter anak yang komunikatif dan anti konflik insyaAllah juga akan lebih mudah diciptakan. Selain itu penghargaan anak terhadap orangtua, juga akan muncul yang mengakibatkan mereka mudah mengurangi bahkan menghilangkan sifat negatifnya.
(Syahidah/voa-islam)

| | Read More »

Dahsyatnya Metode Repetitive (Mengulang) untuk Mendidik Anak Shalih

SIANG sudah beranjak petang. Namun, cahaya matahari masih terasa panas dan menyilaukan. Inilah saat-saat di mana teriakan itu kembali terdengar, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!” Terdengar setiap hari, menyapa telinga warga komplek terutama ibu-ibu yang keluar rumah mengawasi anak-anak kecilnya yang bermain di luar rumah.

Suatu hari teriakan itu kembali terdengar lantang, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!” Seorang ibu muda tergopoh-gopoh menghampiri, “Bang, ada telor asin?” Abang pemilik suara itu pun dengan wajah menyesal menjawab, “Wah, nggak ada Bu. Telor asinnya lagi kosong.” Si Ibu pun menatap si Abang penjual tahu dengan heran, “Lha, tadi teriak lontong-tahu, peyek, telor asin. Kok telor-nya nggak ada?” dumelnya sambil berlalu masuk ke kerumah.

Hari berikutnya seorang ibu lain menghampiri si Abang penjual lontong-tahu tersebut. Sesaat setelah teriakannya menyapa telinga, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!” Ibu tersebut bertanya, “Bang, ada telor asinnya nggak?” Kali ini si Abang menjawab, “Telor asin lagi susah, Bu!” Kini, si Ibu lebih galak, memprotes si Abang, “Nggak ada telor asinnya kok teriak telor asin!” Si Abang pun hanya senyum mesam-mesem
...Allah SWT mendidik kita dengan metode repetitive melalui shalat lima waktu agar membuktikan ketaatan dan memahami makna kehidupan...
Entah berteriak tiga serangkai “lontong-tahu, peyek, telor asin” merupakan satu kesatuan bunyi yang telah dihapal oleh si Abang atau memang si Abang kadung lupa bahwa salah satu barang yang ditawarkannya ternyata tak ada. Yang jelas teriakan si Abang hari-hari berikutnya tetap sama. Mengulang teriakan yang sama, menyapa telinga dengan bunyi dan intonasi yang sama, informasi yang disampaikannya pun selalu berulang, “Lontong-tahu, peyek, telor asin!”

Menarik sekali memperhatikan polah si penjual lontong-tahu di atas. Sesuatu yang diulangnya entah berapa ribu kali sepanjang sejarah profesinya sebagai penjual lontong-tahu, telah membuatnya fasih mengucapkan rangkaian kata tersebut. Tanpa harus membuatnya berpikir-ulang tentang kebenarannya.
Hal ini sejatinya sangat bermanfaat dalam metode pembelajaran anak-anak kita.

Kekuatan Repetitive (Pengulangan)
Repetitive atau pengulangan memang sebuah metode yang dikenal dalam dunia pembelajaran. Seorang guru kerap meminta murid-muridnya untuk mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan ketika belajar kembali di rumah. Tujuannya agar pelajaran yang telah diterima melekat dalam ingatan.

Setiap karyawan pabrik terutama pabrik-pabrik milik Jepang, senantiasa mengikuti apel pagi dengan mengulang core value perusahaan. Tujuannya tak lain untuk membuat karyawan menghayati nilai-nilai utama tersebut dan mengaplikasikannya. Lebih jauh, Allah SWT pun mendidik kita dengan metode repetitive ini melalui shalat. Shalat yang wajib didirikan lima waktu sehari agar setiap Muslim membuktikan ketaatan dan mudah memahami makna kehidupan.
Dokter Oz yang sering menjadi partner Oprah Winfrey dalam talk show-nya mengatakan, menyampaikan imbauan pada anak untuk melakukan sesuatu sebanyak sepuluh kali baru  merupakan pemanasan. Dengan demikian, sebagai orangtua tentu sudah merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk ikhlas dan bersabar menemani buah hati untuk belajar dan mengulanginya.  
...Pengulangan ini membuat anak menerima dan menancapkan keimanan dalam hatinya tanpa sibuk mempertanyakan kembali kebenarannya...
Keikhlasan dan kesabaran orangtua dalam membimbing anak mengulangi pengetahuan yang diperolehnya akan sangat bermanfaat untuk membuat anak merasa mendapatkan dukungan dan penguatan. Dengan demikian, menanamkan keyakinan akan tauhid dan kebenaran Islam pun akan menjadi lebih mudah.

Karena, sebagaimana kecenderungan anak yang mempercayai penuh apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekelilingnya, maka semakin banyak orang yang mengulang-ulang kebenaran tersebut, akan membuatnya semakin yakin bahwa ia berada di jalan yang seharusnya. Pengulangan dan dukungan ini nantinya pun akan membuat anak menerima dan menancapkan keimanan dalam hatinya tanpa sibuk mempertanyakan kembali kebenarannya.

Allah berfirman, “Sungguh, Robbmu, Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Mengetahui. Dan, sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Quran yang agung” (Qs. Al-Hijr 87).
Tujuh ayat yang dimaksud oleh ayat di atas, oleh sebagian ulama diartikan dengan surat Al-Fatihah yang dibaca seorang Muslim berulang-ulang sebanyak 17 kali dalam sehari. Hal ini tentu merupakan metode pembelajaran dari Allah SWT agar hamba-Nya memahami hakikat sejati kehidupan. Sebagai ciptaan yang tak dapat berlepas diri dari kehendak dan pertolongan-Nya. Sebagai abdi yang seharusnya selalu memohon agar kebersamaan dengan Allah SWT dalam bentuk ketaatan, senantiasa dikaruniakan-Nya, agar Sang Pencipta berkenan menghindarkannya dari kejahatan dirinya sendiri maupun mahluk lain. Sehingga kelak ia akan pulang dalam kehidupan surga yang abadi. 
...Metode pengulangan yang diajarkan Allah ini seharusnya kita wariskan pada buah hati kita agar ia mengetahui dengan pasti ke mana ia harus melangkah...
Arah dan tujuan hidup inilah yang selalu diingatkan berulang kali oleh Allah pada kita, sebagai hamba, agar selalu ingat dan meluruskan langkah. Pengulangan yang diajarkan Allah SWT ini pula yang seharusnya kita wariskan pada buah hati kita. Agar ia pun mengetahui dengan pasti ke mana ia harus melangkah, apa yang harus digunakannya saat  tersesat agar dapat kembali, dan apa yang mesti diyakininya tanpa banyak mempertanyakan.

Semuanya hanya dapat diperoleh, tak lain, hanya dengan meneguhkan ketaatan dan keyakinannya. Dengan cara mengulang-ulang dalam benak anak-anak kita bahwa Allah, hanya Dia sajalah, Rabb yang Mahakuasa, Maha Menyayanginya, dan tak pernah mengharapkan sesuatu dari hamba-Nya kecuali kebaikan bagi mereka. [Aliya/voa-islam]

| | Read More »

Bolehkah Sengaja Menampakkan Amal Shalih Agar Ditiru?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Ikhlas adalah harga mati dalam amal shalih yang tidak boleh ditawar. Tanpa ikhlas maka amal akan sia-sia dan Allah tidak akan menerimanya. Di antara sarana paling kuat untuk mewujudkannya adalah dengan tidak menampakkan amal kepada manusia. Karena jiwa itu mudah dan cepat berubah yang terkadang seseorang tak mampu mengontrolnya. Namun bukan berarti hal ini mengharamkan menampakkan amal secara total. Karena ada kalanya menampakkan amal itu malah mendatangkan manfaat besar bagi pelakunya, -selama ia bisa menjaga ikhlash- yakni pahala sebanyak orang yang mencontoh dan mengikuti amal baiknya tersebut.
Sebenarnya hukum asal dari beramal shalih adalah ditutupi, tidak ditampakkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ
"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 271)

Dan dalam hadits tujuh orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat yang tiada naungan kecuali naungan-Nya disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam salah satu dari mereka, "Dan laki-laki yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diperbuat tangan kanannya." (Muttafaq 'Alaih)
 . . ada kalanya menampakkan amal itu malah mendatangkan manfaat besar bagi pelakunya, -selama ia bisa menjaga ikhlash- yakni pahala sebanyak orang yang mencontoh dan mengikuti amal baiknya tersebut. . .
Imam Al-Bukhari membuat bab "Bab Shadaqah al-Sirr" (Bab Shadaqah secara tertutup) dan menyebutkan hadits tadi di bawahnya. Namun pada bab sebelumnya beliau juga membuat judul "Bab Shadaqah al-'Alaniyah" (Bab Shadaqah Secara Terang-terangan), lalu menyebutkan firman Allah Ta'ala,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah: 274)

Hal ini menunjukkan bahwa menampakkan amal tidaklah dilarang sepenuhnya selama pelakunya mampu berlaku ikhlash. Walaupun menyembunyikan amal shalih akan lebih membuat ikhlas. Sikap para salaf telah menjadi buktinya, di antara contohnya ada beberapa sahabat Radhiyallahu 'Anhum yang menampakkan amal-amal mereka karena dibutuhkan.

Tersebut dalam Shahih Muslim, dari hadits Jarir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar. Lalu wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan. Bilal pun adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah selesai beliau berkhutbah seraya membaca ayat,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. Al-Nisa': 1)

Dan satu ayat di surat Al-Hasyar, " . . bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. ." (QS. Al Hasyr:18)
Bersedekahlah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ gandumnya, takaran sha' kurmanya -sampai beliau berkata- walaupun separuh kurma.

Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa satu kantong yang hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu’.
Jarir berkata: ‘Kemudian orang-orang silih berganti memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam bersinar seperti emas." (HR. Muslim)
. . . menampakkan amal tidaklah dilarang sepenuhnya selama pelakunya mampu berlaku ikhlash. Walaupun menyembunyikan amal shalih akan lebih membuat ikhlas. . .
Orang Anshar ini telah datang membawa sekantong yang hampir-hampir telapaknya tak cukup membawanya, bahkan tidak lagi cukup. Dan amal ini pastinya terlihat dan terdengar oleh orang-orang. Maka jika ada mashlahat (kebaikan) yang menuntut untuk menampakkan amal shalih, maka amal itu diperlihatkan untuk mewujudkan mashlahat itu saja, tidak lebih.

Hanya saja apabila seorang muslim atau muslimah menginginkan agar amalnya tersebut diikuti dan ditiru maka dia harus bersungguh-sungguh mengendalikan dirinya dan menundukkan hawa nafsunya, karena Syetan pasti akan berusaha memasukkan riya' atasnya. Wallahu A'lam. [PurWD/voa-islam]

| | Read More »