Andai Hari Ini Aku Mati

| | Read More »

Yang Mengambil Adalah Yang Memberi

| | Read More »

Dan Kehidupan Ini Seperti Film

| | Read More »

Kepada Yang Terhormat Yang Kaya Lagi Banyak Kekayaan

| | Read More »

Tangisan Kaum Pria

| | Read More »

Pesan Dari Seorang Muslimah

| | Read More »

Bukti Manusia Terlahir Untuk Di Uji

| | Read More »

Cobaan Itu Demi Kebaikan

| | Read More »

Empat Anugerah Bagi Para Pendosa

| | Read More »

Van Persie: Islam Itu Agama yang Indah

Van Persie: Islam Itu Agama yang Indah
Robin Van Persie


LONDON - Banyak penggemar sepak bola, khususnya Liga Primer Inggris dan Timnas Belanda yang menyangka, Robin van Persie adalah seorang Muslim. Acuannya adalah ia memiliki istri berdarah Maroko-Belanda yang menganut agama Islam bernama Bouchra. Gara-gara itu van Persie diberitakan menjadi mualaf.
 
Kepada laman Dutch Football, empat tahun lalu, Van Persie membantahnya. Ia menyatakan tidak mengikuti agama istrinya. Meski begitu, dia tetap tinggal serumah bersama Bouchara dan dan kedua anaknya Shaqueel dan Dina Layla di London. Menurut top skorer Liga Primer Inggris musim 2012 ini, tidak benar kalau dia diberitakan sebagai seorang Muslim.

“Itu tidak benar. Saya bukan seorang Muslim, bukan pula seorang Kristen, dan bukan juga seorang Yahudi,” kata dia. Striker Arsenal ini melanjutkan, “Saya telah dibesarkan secara bebas. Jika Anda ingin menjadi seorang Muslim, itu harus datang dari hati.”

Meski begitu, dia memuji agama istrinya tersebut mengajarkan keindahan dan keramahan kepada setiap pemeluknya. “Saya percaya pada diri sendiri. Saya tidak akan melakukannya hanya untuk menyenangkan istri saya,” kata dia. 

sumber: republika.co.id

| | Read More »

Mengupas 'Kesaktian' Kulit Semangka

Mengupas 'Kesaktian' Kulit Semangka
Buah semangka, ilustrasi


Selama ini, semangka hanya dikonsumsi bagian daging yang berwarna mencolok, seperti merah dan kuning, sementara bagian lapisan putih dekat kulit luar sering dibuang dan menjadi limbah. Padahal, bagian ini justru mengandung zat antioksidan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan kulit.

Berangkat dari hal itulah, empat mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memanfaatkan lapisan putih kulit semangka (Citrullus Vulgaris Schrad) untuk bahan pembuatan masker yang bermanfaat bagi kesehatan kulit.

"Lapisan putih kulit semangka sebenarnya banyak mengandung zat yang berguna bagi kesehatan, salah satunya adalah sitrulin. Sitrulin merupakan salah satu zat antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan kulit," kata salah seorang mahasiswa Laila Dhunurain Rochmatika di Yogyakarta, Ahad (20/5).

Laila menjelaskan, "Pemanfaatan lapisan putih buah semangka saat ini tergolong masih kurang maksimal, padahal mengandung zat antioksidan. Oleh karena itu, kami menganalisis kandungan antioksidan pada masker wajah berbahan dasar lapisan putih kulit semangka."

Dikatakannya, pemilihan semangka dalam penelitian itu karena semangka merupakan buah yang dikenal luas masyarakat, mudah dijumpai di berbagai daerah, dan harganya relatif murah.

Penggunaan masker dari buah, masih kata Laila, merupakan salah satu cara mengembalikan kesegaran wajah. Manfaat masker selain melembutkan kulit, juga membuka pori-pori yang tersumbat karena kotoran, debu maupun sisa kosmetik yang tidak bisa hilang oleh pembersih biasa.

"Selain itu, masker juga dapat mengembalikan kelembaban dan kehalusan kulit serta menggantikan sel-sel kulit yang sudah mati dan dapat menjadikan otot-otot wajah menjadi rileks," kata Laila.

Selain Laila, tiga mahasiswa yang juga ikut dalam penelitian itu adalah Hesty Kusumastuti, Galih Dian Setyaningrum, dan Niken Istikhari Muslihah. Mereka adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia dan Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

sumber:republika.co.id

| | Read More »

Mendidik Anak Berkarakter Positif Penuh Tanggungjawab


Nafasnya terengah-engah. Keringat bercucuran di dahinya. Badannya basah kuyup dengan peluh. Namun, senyumnya mengembang menyambut kedua orangtuanya yang baru saja pulang dari kantor. Dengan bangga ia bercerita, “Papa, Mama, lihat, aku berhasil mendorong sepeda. Aku kuat ‘kan Ma? Aku berhasil mendorong sepeda sampai tiga putaran!”

Bapak dan ibunya tersenyum sekaligus terpana melihat polah anak sulungnya tersebut. Bagaimana tidak, sepeda yang didorongnya itu sepeda milik anak mereka dan anak perempuan yang berada di atas sadel sepeda dan didorong-dorong oleh anak mereka itu… anak pembantu mereka!

Namun, kedua orangtuanya memutuskan untuk tidak memarahi anak sulung mereka itu. Mereka justru menyuruh anak laki-laki mereka itu untuk mandi dan berganti pakaian. Juga bukan sekali dua kali mereka melihat anak sulung mereka itu justru memberikan makanan bagiannya pada anak pembantunya, meski si anak pembantu telah diberikan makanan yang sama juga dalam porsi yang sama.

Ketika besar, anak laki-laki sulung itulah yang selalu berusaha bertanggung jawab melindungi adik-adiknya. Dia juga yang bekerja keras melakoni semua usaha hingga bisa meringankan beban kedua orangtuanya yang hanya berpenghasilan pas-pasan dalam membiayai pendidikan keempat adiknya. Bukan atas permintaan orangtuanya tetapi atas kesadarannya sendiri sebagai seorang kakak dan sebagai seorang laki-laki yang “lebih kuat”.

Tak hanya itu, ketika kemudian bisnisnya berkembang pesat, tangannya ringan membantu kaum dhuafa. Tak hanya karena kedermawanan tetapi ia juga bersusah-payah mendirikan organisasi sosial yang menaungi relasi antara para hartawan sebagai orangtua asuh dan anak-anak dhuafa sebagai anak asuhnya.

Tumbuh dari Usia Dini

Begitulah, pribadi dan perilaku yang positif tentunya tak akan muncul tiba-tiba. Semuanya melalui proses yang membuat pribadi positif itu tumbuh dan berkembang. Bila saja di masa kecilnya, orangtua anak tersebut justru memarahi anaknya yang mendorong-dorong sepeda (dengan anak pembantu yang malah duduk di atasnya) atau melarang anaknya memberikan makanan kepada anak pembantunya, kemudian menegaskan posisinya sebagai majikan dan anak pembantu itu adalah pelayan, tentu anak laki-laki itu tak akan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mudah berbagi seperti sekarang.

Segala sesuatunya memang dimulai dari kita sebagai orangtua dan bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita sedari kecil. Menanamkan kesadaran untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tentu juga tak cukup dengan sekadar memberikan ceramah tentang pentingnya menjadi orang yang bertanggung jawab, tanpa memberikan contoh, dorongan, dan kesempatan bagi anak untuk bisa bertanggung-jawab atas hal-hal yang harus dilakukannya.

Bila dalam kisah di atas, anak laki-laki tersebut diberikan kesempatan untuk bertanggungjawab atas kenyamanan permainan mereka sebagai anak lelaki yang lebih pantas untuk mendorong, maka kita juga bisa memberikan kesempatan pada anak-anak balita kita untuk makan sendiri, walaupun sedikit mengotori lantai. Atau, membiarkan anak-anak kita yang telah duduk di kelas 5 atau kelas 6 SD untuk mencuci pakaian mereka sendiri. Walau mungkin, kita harus terus memandunya hingga mereka bisa mencuci pakaian dengan tingkat kebersihan yang diharapkan.

Bersabar dalam Kasih sayang

Percayalah bahwa anak-anak bahkan bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan caranya sendiri. Cara yang mungkin menurut kita tak biasa. Namun justru membawa dampak yang luar biasa bagi jiwanya karena lahir dari inisiatif dan kemampuannya. Bersabarlah sejenak untuk berusaha memahami mereka, kemudian doronglah mereka untuk melakukan yang lebih baik dengan bimbingan dan kasih sayang. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “
Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran” (Qs. Al-Ashr 1-3).
Mari menggunakan waktu yang kita miliki sekarang untuk membangun pribadi dan perilaku positif anak di masa depan. Jangan sampai, hanya karena kemarahan sesaat dan ketidaksabaran yang tidak mampu kita redam, kita dan anak-anak kelak menuai kerugian di masa datang. Yaitu generasi yang tak mampu bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, generasi yang lemah, serta generasi yang tak mampu menggerakkan hati mereka untuk membahagiakan orang lain. Bersabarlah dan bimbinglah diri kita serta anak-anak kita untuk selalu mengambil hikmah dalam kasih-sayang. [Ummu Arina/voa-islam.com]

| | Read More »

Inilah Masjid Bawah Laut Pertama di Dunia




















Masjid bawah laut di barat laut Kota Tabuk, Arab Saudi.
 
Arab Saudi telah membangun masjid pertama di bawah laut. Menurut surat kabar berbahasa Arab, Almadina, masjid di bawah laut itu dibangun oleh sekelompok penyelam dari Kerajaan Arab Saudi.

Masjid itu dibangun menggunakan pipa yang diisi pasir di bawah lautan yang terletak di barat laut pesisir kota Tabuk, dekat dengan perbatasan Yordania.

“Salah satu dari rekan kami mencetuskan ide itu  musim panas lalu, dan kami memutuskan untuk membangunnya,'' ujar seorang penyelam, Hamadan bin Salim Al Masoudi.

“Kami telah menyelesaikan konstruksi masjid. Ketika kami menyelesaikannya tepat shalat maghrib. Sehingga, untuk pertama kalinya kami menunaikan shalat berjamaah  di masjid bawah tanah,'' paparnya.



sumber: republika.co.id

| | Read More »

Syi'ir Tanpo Waton (Pujian Ala Gus Dur)

Astaghfirulloh robbal barooyaa
Astaghfirulloh minal khotooyaa
Rabbi zidni ’ilman nafi’ah
Wawa fiqni ’amalan sholihah


Yaa rosululloh salamun’alaik
Yaa rofi’asa ni wa daaroji
Athfathayyaji rotal alami
Yauuhaylaljuu diwal karomi 2x

Ngawiti engson nglara si'iran
Kelawan muji mareng pengeran
Kang pareng rohmad lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco prio wanito
Ojo mung ngaji syare'at bloko
Gur pinter dongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro.....  2x

Akeh kang apal qur'an haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe gak di gatekke
Yen iseh kotor ati akale.....  2x

Gampang kabojok nafsu angkoro
Eng pepaese gebyare ndonyo
Iri lan meri sugiye tonggo
Mulo atine peteng lan nisto.....  2x

Ayo sedolor jok nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Gur ngendelake iman taukhite
Baguse sangu mulyo matine.....  2x

Kang aran soleh bagus atine
Kerono mapan sering ngelmune
Laku toreqot lan ma'rifate
Ugo hakekat manjeng rasane.....  2x

Al-qur'an Qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake eng njero dodo.....  2x

Kumanthel ati lan pikiran
Mrasuk eng badan sampek jeroan
Mu'jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman.....  2x

Kelawan Allah kang Maha Suci
Kudu rangkulen rino lan wengi
Di tirakati di riyadhoi
Dzikir lan suluk jok nganti lali.....  2x

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir sakeng pengeran.....  2x

Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun ojok ngasiyo
Iku sunahe rosul kang mulyo
Nabi muhammad panutan kito.....  2x

Ayo nglakoni sekabeane
Allah kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire
Anangeng mulyo maqom drajate.....  2x

Lamun palastro eng pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Allah swargo manggone
Utuh mayyite ugoh ulese.....  2x

Yaa rosululalloh salamun’alaik
Yaa rofiassa ni wa daaroji
Athfathayyaji rotal ’alami
Yauuhay laljuu diwal karomi 2x

Al – fatihah….

| | Read More »

Yaya Toure: Saya Muslim, tak Minum Alkohol





















Gelandang Manchester City Yaya Toure, merayakan gol ke gawang Newcastle di Sports Direct Arena, Newcastle, Inggris, Minggu (6/5).


Yaya Toure, pencetak dua gol Manchester City ke gawang Newcastle United, menolak menerima sebotol besar champagne saat pesta kemenangan di ruang ganti. "Maaf! Saya tidak minum alkohol. Saya Muslim," ujar Yaya Toure seraya menyerahkan botol besar champagne ke Joleon Lescott, rekannya.

Toure adalah man of the match pertandingan itu. Ia memborong dua gol kemenangan timnya dan membuat City semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris. Sesuai tradisi klub, bintang pertandingan mendapat kehormatan membuka botol besar champagne.

Bukan kali pertama Toure menolak pesta kemenangan dengan menenggak minuman keras. Ia kerap menghindari tradisi itu, seraya berusaha tidak menyinggung rekan-rekannya.

Juru bicara Manchester City mengatakan pemberian champagne adalah penghargaan yang didambakan setiap main. Namun, katanya, klub bisa memahami jika ada individu yang menolak dengan alasan agama.

Yang bisa dilakukan klub, masih menurut juru bicara Manchester City, adalah menjamin setiap individu di ruang ganti klub tidak merasa tersinggung jika ada rekan mereka yang menolak pesta dengan alasan agama. Liga Inggris adalah kompetisi yang menampung pemain dari 68 negara. Yaya Toure berasal dari Pantai Gading dan beragama Islam.

Imam

Saat masih di Barcelona, Yaya Toure adalah imam bagi dua rekannya; Eric Abidal dan Seydou Keita. Ketiganya selalu menyampatkan diri shalat berjamaah, dan Toure dianggap memiliki pengetahuan keagamaan yang lebih dibanding Abidal dan Keita.

Ketika Yaya Toure memutuskan pindah ke Manchester City, Abidal dan Keyta menjadi orang yang paling kehilangan. Dalam salah satu kesempatan wawancara dengan salah satu radio, Abidal sempat mengatakan.

"Kami kehilangan imam."



sumber: republika.co.id

| | Read More »

Arabian di Cafe Remang-remang

Arabian di Cafe Remang-remang
Oleh *Ubay KPI/Kacong

Iseng-iseng malam ini, saya menemui rekan saya di salah satu café di Kota Pontianak. rekan saya yang satu ini memang agak kerap ke café yang berada di kawasan Ambalat atau tak jauh di diskotik Biztro.
Full music di sajikan di café ini. mungkin tak etis bila saya menyebutkan namanya. Mungkin pembaca yang  pernah ke Pontianak bisa menerka lokasi ini. berada di Jalan Budi Karya, perempatan jalan Gajah Mada-Veteran. Café ini bergabung dengan tempat permainan biliar. Lantai atas untuk biliar dan di bawah café.
 
Di sinilah malam Minggu ini saya berada dengan dua teman saya. music orgen dan suara penyanyi yang kata rekan saya bernama Yuliana terasa penuh seruangan. Ruangan dengan luas puluhan meter persegi ini hanya dicahayai lampu temaram berwarna agak kehijauan dan kuning muda yang menempel di dinding dan tiang café. Asap dari pengunjung yang penuh sesak sekitar lebih tiga ratus pengunjung membuat mata terasa perih. Tak hanya para pria yang merokok. Namun perempuannya juga ikut ngepul. 
 
Café ini terbilang sedikit bebas. Minuman beralkohol juga ada di café ini. hanya obat terlarang yang jarang dijumpai karena peredarannya sangat rahasia. Bir botol tampak banyak berserakan menghiasi meja. begitu juga gelas ykopi dan minuman sejenisnya ikut mewarnai meja yang tersusun rapi.
 
Di tengah café, ada panggung music. Ada penyanyi khusus yang melantunkan suaranya di sini. Dan ada juga pengunjung yang pamer suara di panggung  berukuran sekitar 3 meter itu. Lampu biru di bagian depan, dan warna-warni hidup mati menghiasi panggung. Di depan panggung tampak kepala turun naik mengikuti hentakan music. Begitu juga dengan pinggul, tak perempuan dan laki, ikut bergolek mengikuti dentuman music. Goyang kanan dan goyang kiri, tangan kanan dan tangan kiri di angkat. Sambil angguk-angguk mereka menari dengan rekan dan pasangannya.
 
Tak ada meja kosong yang ada mala mini. Bahkan, banyak di luar café pengunjung menunggu ada bangku. Di halaman café yang juga telah ditata dengan kursi, penuh dengan penunjung.
 
Saya berada di barisan paling belakang sebelah kanan di café yang menghadap ke selatan ini. sesekali saya mengikuti hentakan music, sesekali saya bertepuk tangan mendengar alunan syahdu music dangdut. Duh, asyikk banget rasanya pikiran saya kalau dihibur dengan music dangdut. 
 
Tapi kembali ke niat awal saya, saya datang ke café ini untuk membuat tulisan ini. saya tiga kali ke café remang ini. waktunya berbeda-beda. Dan dari tiga kali itu, memang selalu saya saksikan, café ini sangat jarang sepi. Pengunjungnya beraneka ragam, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, setengah baya, bahkan ada dari mereka yang mungkin masih usia sekolah. 
 
Pakaiannya pengujung juga demikian, bagi kaum adam mungkin lebih seragam mengenakan jaket celana panjang, atau celana dengan kaos saja. Tapi bila melongok ke pakaian si cewek-cewek yang berbagai bentuk raut wajah. Mulai dari jerawatan hingga penuh perawatan, sungguh nikmat bercampur dosa yang ada. bayangkan, ada yang hanya setengah paha. Ada yang nampak paha kayak celana pendek bayi. Ada yang tampak lengan, bahkan ada yang tampak sedikit buah dada. 
 
Mungkin pemandangan ini nikmat bagi sebagian orang, mungkin juga bagi saya. tapi intinya, itu adalah pakaian yang tidak diperbolehkan bagi seorang muslim. Menutup aurat adalah wajib bagi setiap muslim.
 
Kadang saya bertanya dalam hati, kok betah dengan suasana ribut dan bau aneka jenis ini? bau badan sampe bau minuman, bau asap sampe bau uapan. 
 
Ada salah satu pengunjung berpakaian seksi yang lagi ngumpul bersama lima rekan cewek dan dua laki-laki yang duduk di samping meja tempat saya duduk, saat saya tanyai. Ia katanya seorang karyawan di Pontianak. dan berada di café ini sudah agak lama. Sepertiny, ia orang yang sering ke café ini. sebab pakaiannya sangat seragam dengan pengunjung cewek lainnya.
Wah, segelas the hangat yang saya pesan sudah datang. 5000 rupiah jak.
 
 
 
Note________________________________________________
*Ubay KPI/Kacong
Camfrog ID:  m3r4mp0t_c0m
 Blog: ubaysemali.blogspot.com

| | Read More »

LIBERAL SEBUAH KESESATAN DARI MASA KE MASA

Sahabat dan para pembaca KCSU, setiap kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pengatur alam semesta. Tidak boleh ada keraguan tentang hal tersebut. Akan tetapi dalam kenyataan hidup ternyata masih kita dapati orang-orang yang menuhankan akalnya sehingga dalam kesehariannya selalu timbul pertanyaan-pertanyaan aneh dan nyeleneh seperti kenapa, bagaimana dan mengapa. Inilah akibat minimnya pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Hujurot [49]:1).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam  bersabda :
“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya yaitu Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnahku.” (HR. al-Hakim 1/172, lihat  Shohih al-Jami’ no. 2937 dan ash-Shohihah no. 1761).

Ketika masa semakin jauh dari zaman kenabian dan semakin banyak muncul fitnah, datang sebuah pemikiran atau paham bahwa akal harus didahulukan daripada wahyu (naqli) ketika keduanya bertentangan menurut pemahaman penganutnya. Paham mendahulukan akal dari pada naqli yang berarti pula mengkultuskan akal ini, jika kita teliti asal-usulnya, maka ia akan berujung pada Iblis la’natullah ‘alaihi. Dialah yang pertama kali menggunakan akalnya untuk menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dia bersama malaikat sujud kepada Nabi Adam ‘Alaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam ‘Alaihis salam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam ‘Alaihis salam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam ‘Alaihis salam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.(QS. al-A’raf [6]: 11-12).

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata:  
“Perbuatan menentang wahyu dengan akal adalah warisan Syeikh Abu Murroh alias iblis. Dialah yang pertama kali menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.” (Syarah al-Aqidah al-Thohawiyyah hal. 207).

Manhaj (metodologi) ini kemudian diwarisi oleh para pengikut iblis dari kalangan musuh para Rosul. Di antaranya adalah kaum Nabi Nuh ‘Alaihis salam yang melakukan penentangan terhadap dakwah beliau. Mereka berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu melainkan sebagai manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina dina di antara kami yang mudah percaya begitu saja. Kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’” (QS. Hud [11]: 27).

Yakni, orang-orang yang menentang Nabi Nuh ‘Alaihis salam berkata bahwa mereka (para pengikut Nabi Nuh ‘Alaihis salam) mengikuti beliau tanpa berpikir benar-benar (Tafsir as-Sa’di, hal. 380). Orang-orang kafir itu beralasan, mereka tidak mengikuti Nabi Nuh ‘Alaihis salam karena menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang rasionya maju dan berpikir panjang, sedang pengikut para Rasul berakal pendek. Hal yang sama terjadi pula pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Tokoh paham ini yang muncul di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah Dzul Khuwaishiroh. Dialah yang mengatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wahai Muhammad dan berbuat adil-lah (dalam hal pembagian).” (HR. Bukhori no. 1219).

Orang ini tahu akan keharusan berbuat adil tapi ia tidak tahu cara adil menurut syariat. Ia menyangkal cara pembagian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk orang-orang yang beliau maksudkan agar lunak hati mereka dengan pandangan akalnya, ia menganggap bahwa pembagian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam itu tidak adil walaupun Nabi membaginya dengan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda :  

“Dzat yang di atas langit telah mempercayaiku, sedangkan kalian tidak percaya kepadaku?” (HR. Bukhori no. 1219).

Sepeninggal Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam masih ada orang yang mewarisi pemikiran itu bahkan dikembangkan menjadi lebih sistematis. Mereka tulis dalam karya-karya mereka lalu dijadikan sebagai rujukan dalam banyak permasalahan. Maka jadilah akal sebagai hakim dalam berbagai masalah. Apa yang diputuskan akal, itulah yang benar. Dan apa yang ditolaknya maka itu tentu salah. Salah satu “ahli waris” dari paham ini adalah kelompok Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, manusia dengan semata akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan.
Al-Qodhi Abdul Jabbar (wafat tahun 415 H), salah satu tokoh terkemuka paham ini mengatakan ketika menerangkan urutan dalil:

“Yang pertama adalah dalil akal karena dengan akal bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berbicara kecuali dengan orang-orang yang berakal…” (Fadhlul I’tizal hal. 139, dinukil dari Mauqif al-Madrosah al-’Aqliyyah min as-Sunnah an-Nabawiyyah, 1/97).

Perkataan orang-orang Mu’tazilah ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits yang telah disebut di muka. Karena itu, alasan seperti ini tidak bisa diterima (karena salah), apapun alasannya. Lebih-lebih karena dalilnya juga cuma dari akal, di mana akal ini satu sama lain bisa berbeda pandangan (dalam memahami sesuatu). Lantas pandangan siapa yang mau dijadikan standar?.

Bahkan apa yang dia katakan itu “…karena dengannya bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk…” adalah pernyataan yang salah menurut dalil naqli dan akal yang sehat. Tidak secara mutlak demikian.
Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. asy-Syuro [42]: 52).

Jadi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri sebelum diberi wahyu tidak mengetahui perincian syari’at, tidak tahu mana yang baik dan yang buruk secara detail apalagi selain beliau.


Bagi yang berakal sehat, dia akan tahu, misalnya, bahwa sholat adalah sesuatu yang baik setelah diberi tahu syari’at. Tahu mencium Hajar Aswad itu baik, tahu melempar jumroh itu baik, tahu jeleknya daging babi sebelum ditemukan adanya cacing pita di dalammnya, dan banyak pengetahuan lainnya semua adalah dari syariat. Dengan demikian syariatlah yang menerangkan baik atau jeleknya sesuatu. Memang terkadang akal dapat menilai baik buruknya sesuatu namun hanya pada perkara yang sangat terbatas, seperti baiknya kejujuran dan jeleknya kebohongan. Dalam permasalahan lain, terutama dalam perkara aqidah dan ibadah, akal banyak tidak tahu bahkan butuh bimbingan wahyu untuk mengetahuinya.

Kita langsung melompat pada zaman akhir-akhir ini di mana muncul pula para pemikir semacam Muhammad Abduh. Orang ini berkata:
“Telah sepakat pemeluk agama Islam kecuali sedikit yang tidak terpandang bahwa jika bertentangan antara akal dan dalil naqli maka yang diambil adalah apa yang ditunjukkan oleh akal.” (al-Islam wan Nashroniyyah hal. 59 dinukil dari al-‘Aqlaniyyun hal. 61-62).

Ia kesankan pendapatnya adalah pendapat jumhur Umat, sedangkan pendapat lain (yang justru mencocoki kebenaran) merupakan pendapat minoritas yang tidak perlu ditoleh. Yang benar adalah sebaliknya. Justru pendapat seluruh Ahlus Sunnah dari dulu sampai saat ini dan yang akan datang, bahwa akal itu harus mengikuti dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedang mereka (orang-orang Mu’tazilah dan pengikutnya) adalah golongan minoritas yang tidak perlu dilihat orangnya dan pendapatnya.

Warisan iblis ini sampai sekarang masih ada dan sungguh benar perkataan orang Arab: “Likulli qaumin warits” (setiap kelompok/sekte itu ada yang mewarisi) dan sejelek-jelek warisan adalah warisan iblis, sehingga muncul berbagai pertanyaan di benak ini, yang mengingatkan kita pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. adz-Dza-riyat [51]: 53).

Pewaris ternama dalam penuhanan akal kinipun mulai menjamur. Diantaranya adalah mereka yang sok moderat padahal berotak bejat. Mereka adalah JIL, Jaringan Iblis Laknatulloh alias Jaringan Islam Liberal. Tokoh-tokoh mereka yang dengan seenak hati mempermainkan hukum syar’i yang mana hukum islam harus selaras dengan otak mereka yang tidak waras.

Aliran sesat yang marak lahir dalam beragam bentuk, mereka bela dengan alasan otoritas keagamaan. Mereka juga memiliki penafsiran sendiri terhadap al-Qur’an yang berdasarkan akal mereka karena menurut otak mereka yang tidak beres, setiap individu memiliki relativisme dalam memahami al-Qur’an.

Inilah buah buruk jika al-Qur’an dan al-Hadits tidak dipahami menurut pemahaman salaf as-sholeh dan ulama yang mumpuni dalam bidangnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur’an dan penjelasannya dengan mengutus malaikat yang utama dan dengan Rasul yang mulia, bayangkan saja kalau Islam ini berasaskan akal, setiap orang tentunya memiliki tata cara ibadah masing-masing, setiap daerahpun bebas berkreasi dalam peribadatan. Dan inilah yang akan menjadi bibit penyimpangan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kita jalan yang lurus dan mengistiqomahkan kita semua di jalan tersebut. 

(KCSU Team)

| | Read More »

Pengumuman Rapat

Assalamualaikum wr wb...Dengan  hormat untuk saudara-saudari ku OP /owner di harapkan kumpul  pada malam minggu tanggal 29 April 2012 jam 22.00 di room Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah, Agenda Rapat Persiapan Acara Lomba wassalamualaikum wr wb ' 

(Set by kcsu team - khazzanah)

| | Read More »

Sahabat yang Menjadi Pelecut Semangat

Sahabat dan para pembaca KCSU dimanapun anda berada, manusia mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, utamanya teman pergaulannya. Karenanya Nabi bersabda, ”al-mar’u ’alaa diini khaliilihi”, (keadaan) seseorang itu tergantung agama temannya. Karakter ini tidak selalu berdampak negatif. Tergantung bagaimana cara dan kepada siapa seseorang bergaul. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengumpamakan teman pergaulan laksana makanan.

Di antara makanan ada yang mengandung racun, membahayakan tubuh jika dikonsumsi. Ada pula yang menjadi obat, diperlukan di saat sakit, tapi ditinggalkan dikala sehat. Dan ada pula makanan bergizi, yang secara rutin layak untuk dikonsumsi.

Begitulah halnya dengan sahabat. Pertama ada tipe ’racun’. Bergaul dengannya hanya mendatangkan kerugian. Tertular kebiasaan buruk, terpadam semangat untuk taat atau minimal ikut tercemar nama baiknya. Seperti bergaul dengan para pemalas yang akan menularkan kemalasan. Atau kepada para penyeru kesesatan yang akan mewariskan kesesatan. Juga orang-orang fajir yang cepat atau lambat akan menyeret teman-temannya kepada dosa dan kejahatan.

Yang Kedua adalah teman yang diumpamakan obat yang diperlukan dikala sakit. Seperti para relasi yang berhubungan dengan keperluan ma’isyah dan jual beli. Bermuamalah dengan mereka bisa menutup sisi kekurangan duniawi kita. Namun karena fungsinya sebagai obat, maka takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan dan melampaui batas yang justru akan menimbulkan madharat.

Teman Sejati Ibarat Nutrisi
Yang paling bermanfaat adalah teman yang diumpamakan layaknya nutrisi bergizi. Jika dikonsumsi secara teratur, kondisi tubuh menjadi fit, kekuatan tubuh terjaga dan seluruh fungsi tubuh berjalan secara sehat. Teman yang baik akan menginspirasi banyak kebaikan, mengingatkan disaat khilaf dan menguatkan di saat lemah. Teman semisal ini sesuai dengan apa yang diumpamakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai penjual minyak wangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau akan mencium aroma wangi darinya. Adapun bersama tukang pandai besi, bajumu bisa terbakar karena apinya, atau setidaknya engkau pasti akan mendapati bau tak sedap.” (HR Muslim)

Sahabat KCSU yang dirahmati Allah SWT pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan menguatkan keyakinan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Betapa sangat dibutuhkan teman seperti ini, apalagi di saat menghadapi pilihan yang sulit. Seperti yang pernah dialami Imam Ahmad bin Hambal saat mendapatkan intimidasi penguasa lantaran teguh dengan pendapatnya, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk.


Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam an-Nubala’ menuliskan penuturan Abu Ja’far al-Anbari,

”Telah sampai berita kepadaku bahwa Imam Ahmad ditangkap oleh al-Ma’mun. Maka aku segera menyeberangi sungai Eufrat. Setelah tiba, aku dapati Imam Ahmad di tempatnya dan kuucapkan salam kepadanya. Beliau berkata, ”Wahai Abu Ja’far, engkau telah menyusahkan dirimu.” Lalu aku berkata, ”Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin, dan kaum muslimin berada di  belakangmu. Jika Anda mengatakan al-Qur’an adalah makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan hal yang sama. Dan jika Anda tetap tegas mengatakan bahwa al-Qur’an itu (Kalamulllah) bukan makhluk, maka umat akan berpendapat sama.Sementara jika Anda tidak mati dibunuh oleh penguasa, toh Anda juga akan mati dengan cara yang lain. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan turuti kemauan mereka.”
Mendengar nasihat ini, Imam Ahmad menangis seraya berkata, ”Masya Allah! Wahai Abu Ja’far, ulangilah nasihat Anda.” Akupun mengulanginya dan beliau kembali mengucapkan, ”Masya Allah!”

Mencari Sahabat Pelecut Semangat
Sebagaimana dalam kontek keimanan, dalam hal menjaga semangat belajar, motivasi untuk berusaha dan antusias untuk mendapatkan kemaslahatan dan cita-cita luhur, teman juga memiliki pengaruh yang besar. Selayaknya kita banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki cita-cita besar, enerjik dan teguh pendirian. Karena berteman dengan mereka menjadi energi tersendiri untuk memupuk ’iradah’ (kemauan) yang mulia dan melecut semangat untuk meraih segala hal yang bermanfaat.

Kita bisa menengok sejarah para ulama. Kesuksesan mereka ternyata banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Keulamaan Ikrimah bin Abdillah, dipengaruhi oleh ’kehebatan’ majikannya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma. Salim bin Abdullah bin Umar yang banyak terinspirasi oleh keshalihan dan kefaqihan ayahnya, Abdullah bin Umar bin Khaththab.

Jika ada keterbatasan untuk mendapatkan teman yang mampu meletupkan semangat, maka kita bisa pula mengais inspirasi dengan bergaul bersama para ulama dan tokoh sepanjang sejarah. Yakni dengan membaca sejarah dan kisah-kisah mereka, sehingga kita seakan berteman dengan mereka. Inilah yang dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak rahimahullah, yang disebut-sebut sebagai ’amiirul mukminin fil hadiits’, pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal hadits.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita para sahabat yang bisa membantu dan menginspirasi kita meraih faedah di dunia dan akhirat. 

(Abu Umar Abdillah)

| | Read More »

Dengki dan Persaingan

Sahabat KCSU yang dirahmati Allah SWT sekecil apapun kadarnya, semua orang pernah merasakan kedengkian. Hanya saja sikap yang diambil ketika dengki mulai tumbuh, masing-masing orang berbeda. Ada yang segera memangkasnya, ada pula yang membiarkannya tumbuh menjadi pohon hasad yang berbuah kezhaliman.

Dengki dalam bahasa kita adalah perasaan tidak suka pada orang tertentu yang meraih atau mendapat suatu karunia. Dengki sering digunakan untuk memaknai hasad. Tapi hasad, sebenarnya, bukan hanya perasaan tidak suka tapi juga disertai keinginan agar nikmat tersebut berpindah tangan atau hilang darinya. Sehingga tak mengherankan jika hasad sering menjadi biang kerok dari berbagai tindak kezhaliman sebagai bentuk pelampiasannya. Sampai-sampai, ada ayat khusus yang memerintahkan manusia berlindung dari ulah pendengki (QS. Falaq; 5).

Sahabat Khazanah Cinta Senandung Ukhuwah ada banyak hal yang bisa menyebabkan dengki; persaingan, dendam, sifat takabur, dan kebencian. Atau, dengki yang memang sudah mengurat akar menjadi karakter hati seseorang. Dimana hatinya senantiasa gelisah terhadap apapun yang didapatkan orang disekelilingnya dan ingin merampasnya.

Jika kita klasifikasikan menurut levelnya, dengki akan terbagi menjadi tiga level;

Pertama, perasaan tidak suka pada orang lain, tetangga atau saingan, atas nikmat yang diperoleh, namun perasaan ini segera diredakan. Rasa semacam ini muncul begitu saja dalam hati. Biasanya, hal itu disebabkan karena orang yang mendapat nikmat tersebut berada pada strata yang lebih rendah daripada dirinya dalam hal tertentu. Sehingga ketika dia mampu meraih atau mendapat sesuatu yang lebih, dengki pun muncul di hati. Akan tetapi karena segera diredakan – mungkin dengan instrospeksi diri bahwa setiap manusia memiliki nasibnya sendiri-sendiri misalnya-, kedengkian itu meredup dan padam. Maka, selamatlah ia.

Kedua, kedengkian yang dipendam dan dibiarkan membara dalam hati. Tidak segera diobati tapi juga tidak dilampiaskan. Memang, Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa asalkan tidak dilampiaskan, kedengkian tidak akan membahayakan. Namun seringnya, tidak dilampiaskannya dengki tersebut bukan karena tidak mau, tapi lebih karena tidak mampu. Kedengkian semacam ini, meski tidak memunculkan perbuatan buruk berupa kezhaliman tapi akan menyebabkan hati menjadi kotor. Ia seperti bom waktu yang meledak jika ada kesempatan. Intinya, rasa ini juga harus dihilangkan.

Ketiga, kedengkian yang dilampiaskan. Level pelampiasan dengki paling rendah adalah dengan ucapan. Saat melihat yang didengki mendapat nikmat, kedengkian mengontrol lidahnya untuk merajut kata-kata keji; fitnah, ghibah, komentar miring dan berbagai ungkapan ketidaksukaan. Level selanjutnya adalah kezhaliman. Bermula dari rasa dengki, berlanjut menjadi perampasan, pencurangan hingga pembunuhan. Ada banyak contoh dalam hal ini, mulai dari Kisah Adam-Iblis, Habil Qabil, Yusuf dan saudaranya dan contoh lain di sekitar kita.

Antara dengki dan persaingan
Dalam semua literatur, dengki selalu dimasukkan dalam kategori al akhlaq al madzmumah, atau akhlak yang tercela. Ketercelaan ini bisa kita lihat dari mana asal dengki ini tumbuh. Seperti yang sudah disebutkan, motivasi tumbuhnya kedengkian rata-rata adalah motivasi yang buruk. Bisa juga dari sisi pelampiasannya berupa berbagai tindak kedzaliman.

Namun, jika kita cermati, rasa dengki sebenarnya hanyalah salah satu kategori dari sifat manusia yang selalu ingin bersaing (kompetisi). Bedanya, hasad atau dengki memilih jalan kiri untuk meraih keinginan; cara-cara kotor dengan tujuan  merampas atau menghilangkan nikmat dari yang didengki dan berbagai tindakan tercela. Sedang persaingan (munafasah) secara umum, adalah semacam rasa iri dan ketidakrelaan untuk disamai atau disaingi, yang kemudian memicu semangat untuk melakukan/meraih hal yang sama atau lebih. Sehingga, motivasi berupa rasa iri ini tidak semuanya buruk. Statusnya mubah jika dalam urusan mubah. Misalnya persaingan dalam hal bisnis, prestasi akademik dan lainnya. Tentu saja jika cara yang digunakan bersih. Tak hanya mubah, bahkan jika persaingan tersebut dalam hal kebaikan, bisa menjadi persaingan yang berpahala atau at tasabuq bil khairat saling berlomba dalam kebaikan. Rasa iri dalam kebaikan disebut ghibtah.

Rasulullah bersabda,
“Tidak ada hasad atau iri –yang disukai– kecuali pada dua perkara; (yaitu) seorang yang diberikan pemahaman Al-Qur`an lalu mengamalkannya di waktu-waktu malam dan siang; dan seorang yang Allah beri harta lalu menginfakkannya di waktu-waktu malam dan siang.” (HR. Muslim).

Nabi menamakan rasa itu sebagai hasad sebagai bentuk majaz karena secara motivasi ada kesamaan yaitu ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Penjelasan panjang ini disarikan dari keterangan Ibnul Hajar dalam kitab Fathul Bari; 1/119 ketika menjelaskan maksud hadits di atas.

Tinggal Pilih
Nah Sahabat KCSU, dari dua kategori hasad ini, manakah yang sekarang tengah tumbuh dalam hati kita? Adakah kedengkian yang buruk yang hanya menyiksa dan memenjarakan hati dalam kegelisahan? Kita berlindung kepada Allah dari hasad ini. Ataukah hasad yang baik? Yang menjadi motivasi kuat bagi kita untuk berlomba dalam kebaikan?Atau jangan-jangan, kita tidak dengki pada siapapun, tapi juga tak pernah iri dan termotivasi dengan kebaikan dan prestasi orang lain? Semoga saja tidak, karena kondisi ini, bisa menjadi pertanda buruk bagi iman dan semangat keislaman kita. Wallahua’lam. 

(T. Anwar)

| | Read More »