LIBERAL SEBUAH KESESATAN DARI MASA KE MASA

Sahabat dan para pembaca KCSU, setiap kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pengatur alam semesta. Tidak boleh ada keraguan tentang hal tersebut. Akan tetapi dalam kenyataan hidup ternyata masih kita dapati orang-orang yang menuhankan akalnya sehingga dalam kesehariannya selalu timbul pertanyaan-pertanyaan aneh dan nyeleneh seperti kenapa, bagaimana dan mengapa. Inilah akibat minimnya pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Hujurot [49]:1).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam  bersabda :
“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya yaitu Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnahku.” (HR. al-Hakim 1/172, lihat  Shohih al-Jami’ no. 2937 dan ash-Shohihah no. 1761).

Ketika masa semakin jauh dari zaman kenabian dan semakin banyak muncul fitnah, datang sebuah pemikiran atau paham bahwa akal harus didahulukan daripada wahyu (naqli) ketika keduanya bertentangan menurut pemahaman penganutnya. Paham mendahulukan akal dari pada naqli yang berarti pula mengkultuskan akal ini, jika kita teliti asal-usulnya, maka ia akan berujung pada Iblis la’natullah ‘alaihi. Dialah yang pertama kali menggunakan akalnya untuk menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dia bersama malaikat sujud kepada Nabi Adam ‘Alaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam ‘Alaihis salam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam ‘Alaihis salam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam ‘Alaihis salam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.(QS. al-A’raf [6]: 11-12).

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata:  
“Perbuatan menentang wahyu dengan akal adalah warisan Syeikh Abu Murroh alias iblis. Dialah yang pertama kali menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.” (Syarah al-Aqidah al-Thohawiyyah hal. 207).

Manhaj (metodologi) ini kemudian diwarisi oleh para pengikut iblis dari kalangan musuh para Rosul. Di antaranya adalah kaum Nabi Nuh ‘Alaihis salam yang melakukan penentangan terhadap dakwah beliau. Mereka berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu melainkan sebagai manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina dina di antara kami yang mudah percaya begitu saja. Kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’” (QS. Hud [11]: 27).

Yakni, orang-orang yang menentang Nabi Nuh ‘Alaihis salam berkata bahwa mereka (para pengikut Nabi Nuh ‘Alaihis salam) mengikuti beliau tanpa berpikir benar-benar (Tafsir as-Sa’di, hal. 380). Orang-orang kafir itu beralasan, mereka tidak mengikuti Nabi Nuh ‘Alaihis salam karena menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang rasionya maju dan berpikir panjang, sedang pengikut para Rasul berakal pendek. Hal yang sama terjadi pula pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Tokoh paham ini yang muncul di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah Dzul Khuwaishiroh. Dialah yang mengatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wahai Muhammad dan berbuat adil-lah (dalam hal pembagian).” (HR. Bukhori no. 1219).

Orang ini tahu akan keharusan berbuat adil tapi ia tidak tahu cara adil menurut syariat. Ia menyangkal cara pembagian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk orang-orang yang beliau maksudkan agar lunak hati mereka dengan pandangan akalnya, ia menganggap bahwa pembagian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam itu tidak adil walaupun Nabi membaginya dengan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda :  

“Dzat yang di atas langit telah mempercayaiku, sedangkan kalian tidak percaya kepadaku?” (HR. Bukhori no. 1219).

Sepeninggal Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam masih ada orang yang mewarisi pemikiran itu bahkan dikembangkan menjadi lebih sistematis. Mereka tulis dalam karya-karya mereka lalu dijadikan sebagai rujukan dalam banyak permasalahan. Maka jadilah akal sebagai hakim dalam berbagai masalah. Apa yang diputuskan akal, itulah yang benar. Dan apa yang ditolaknya maka itu tentu salah. Salah satu “ahli waris” dari paham ini adalah kelompok Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, manusia dengan semata akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan.
Al-Qodhi Abdul Jabbar (wafat tahun 415 H), salah satu tokoh terkemuka paham ini mengatakan ketika menerangkan urutan dalil:

“Yang pertama adalah dalil akal karena dengan akal bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berbicara kecuali dengan orang-orang yang berakal…” (Fadhlul I’tizal hal. 139, dinukil dari Mauqif al-Madrosah al-’Aqliyyah min as-Sunnah an-Nabawiyyah, 1/97).

Perkataan orang-orang Mu’tazilah ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits yang telah disebut di muka. Karena itu, alasan seperti ini tidak bisa diterima (karena salah), apapun alasannya. Lebih-lebih karena dalilnya juga cuma dari akal, di mana akal ini satu sama lain bisa berbeda pandangan (dalam memahami sesuatu). Lantas pandangan siapa yang mau dijadikan standar?.

Bahkan apa yang dia katakan itu “…karena dengannya bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk…” adalah pernyataan yang salah menurut dalil naqli dan akal yang sehat. Tidak secara mutlak demikian.
Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. asy-Syuro [42]: 52).

Jadi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri sebelum diberi wahyu tidak mengetahui perincian syari’at, tidak tahu mana yang baik dan yang buruk secara detail apalagi selain beliau.


Bagi yang berakal sehat, dia akan tahu, misalnya, bahwa sholat adalah sesuatu yang baik setelah diberi tahu syari’at. Tahu mencium Hajar Aswad itu baik, tahu melempar jumroh itu baik, tahu jeleknya daging babi sebelum ditemukan adanya cacing pita di dalammnya, dan banyak pengetahuan lainnya semua adalah dari syariat. Dengan demikian syariatlah yang menerangkan baik atau jeleknya sesuatu. Memang terkadang akal dapat menilai baik buruknya sesuatu namun hanya pada perkara yang sangat terbatas, seperti baiknya kejujuran dan jeleknya kebohongan. Dalam permasalahan lain, terutama dalam perkara aqidah dan ibadah, akal banyak tidak tahu bahkan butuh bimbingan wahyu untuk mengetahuinya.

Kita langsung melompat pada zaman akhir-akhir ini di mana muncul pula para pemikir semacam Muhammad Abduh. Orang ini berkata:
“Telah sepakat pemeluk agama Islam kecuali sedikit yang tidak terpandang bahwa jika bertentangan antara akal dan dalil naqli maka yang diambil adalah apa yang ditunjukkan oleh akal.” (al-Islam wan Nashroniyyah hal. 59 dinukil dari al-‘Aqlaniyyun hal. 61-62).

Ia kesankan pendapatnya adalah pendapat jumhur Umat, sedangkan pendapat lain (yang justru mencocoki kebenaran) merupakan pendapat minoritas yang tidak perlu ditoleh. Yang benar adalah sebaliknya. Justru pendapat seluruh Ahlus Sunnah dari dulu sampai saat ini dan yang akan datang, bahwa akal itu harus mengikuti dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedang mereka (orang-orang Mu’tazilah dan pengikutnya) adalah golongan minoritas yang tidak perlu dilihat orangnya dan pendapatnya.

Warisan iblis ini sampai sekarang masih ada dan sungguh benar perkataan orang Arab: “Likulli qaumin warits” (setiap kelompok/sekte itu ada yang mewarisi) dan sejelek-jelek warisan adalah warisan iblis, sehingga muncul berbagai pertanyaan di benak ini, yang mengingatkan kita pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. adz-Dza-riyat [51]: 53).

Pewaris ternama dalam penuhanan akal kinipun mulai menjamur. Diantaranya adalah mereka yang sok moderat padahal berotak bejat. Mereka adalah JIL, Jaringan Iblis Laknatulloh alias Jaringan Islam Liberal. Tokoh-tokoh mereka yang dengan seenak hati mempermainkan hukum syar’i yang mana hukum islam harus selaras dengan otak mereka yang tidak waras.

Aliran sesat yang marak lahir dalam beragam bentuk, mereka bela dengan alasan otoritas keagamaan. Mereka juga memiliki penafsiran sendiri terhadap al-Qur’an yang berdasarkan akal mereka karena menurut otak mereka yang tidak beres, setiap individu memiliki relativisme dalam memahami al-Qur’an.

Inilah buah buruk jika al-Qur’an dan al-Hadits tidak dipahami menurut pemahaman salaf as-sholeh dan ulama yang mumpuni dalam bidangnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur’an dan penjelasannya dengan mengutus malaikat yang utama dan dengan Rasul yang mulia, bayangkan saja kalau Islam ini berasaskan akal, setiap orang tentunya memiliki tata cara ibadah masing-masing, setiap daerahpun bebas berkreasi dalam peribadatan. Dan inilah yang akan menjadi bibit penyimpangan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kita jalan yang lurus dan mengistiqomahkan kita semua di jalan tersebut. 

(KCSU Team)

| | Read More »

Bolehkah Sengaja Menampakkan Amal Shalih Agar Ditiru?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Ikhlas adalah harga mati dalam amal shalih yang tidak boleh ditawar. Tanpa ikhlas maka amal akan sia-sia dan Allah tidak akan menerimanya. Di antara sarana paling kuat untuk mewujudkannya adalah dengan tidak menampakkan amal kepada manusia. Karena jiwa itu mudah dan cepat berubah yang terkadang seseorang tak mampu mengontrolnya. Namun bukan berarti hal ini mengharamkan menampakkan amal secara total. Karena ada kalanya menampakkan amal itu malah mendatangkan manfaat besar bagi pelakunya, -selama ia bisa menjaga ikhlash- yakni pahala sebanyak orang yang mencontoh dan mengikuti amal baiknya tersebut.
Sebenarnya hukum asal dari beramal shalih adalah ditutupi, tidak ditampakkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ
"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 271)

Dan dalam hadits tujuh orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat yang tiada naungan kecuali naungan-Nya disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam salah satu dari mereka, "Dan laki-laki yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diperbuat tangan kanannya." (Muttafaq 'Alaih)
 . . ada kalanya menampakkan amal itu malah mendatangkan manfaat besar bagi pelakunya, -selama ia bisa menjaga ikhlash- yakni pahala sebanyak orang yang mencontoh dan mengikuti amal baiknya tersebut. . .
Imam Al-Bukhari membuat bab "Bab Shadaqah al-Sirr" (Bab Shadaqah secara tertutup) dan menyebutkan hadits tadi di bawahnya. Namun pada bab sebelumnya beliau juga membuat judul "Bab Shadaqah al-'Alaniyah" (Bab Shadaqah Secara Terang-terangan), lalu menyebutkan firman Allah Ta'ala,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah: 274)

Hal ini menunjukkan bahwa menampakkan amal tidaklah dilarang sepenuhnya selama pelakunya mampu berlaku ikhlash. Walaupun menyembunyikan amal shalih akan lebih membuat ikhlas. Sikap para salaf telah menjadi buktinya, di antara contohnya ada beberapa sahabat Radhiyallahu 'Anhum yang menampakkan amal-amal mereka karena dibutuhkan.

Tersebut dalam Shahih Muslim, dari hadits Jarir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar. Lalu wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan. Bilal pun adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah selesai beliau berkhutbah seraya membaca ayat,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. Al-Nisa': 1)

Dan satu ayat di surat Al-Hasyar, " . . bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. ." (QS. Al Hasyr:18)
Bersedekahlah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ gandumnya, takaran sha' kurmanya -sampai beliau berkata- walaupun separuh kurma.

Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa satu kantong yang hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu’.
Jarir berkata: ‘Kemudian orang-orang silih berganti memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam bersinar seperti emas." (HR. Muslim)
. . . menampakkan amal tidaklah dilarang sepenuhnya selama pelakunya mampu berlaku ikhlash. Walaupun menyembunyikan amal shalih akan lebih membuat ikhlas. . .
Orang Anshar ini telah datang membawa sekantong yang hampir-hampir telapaknya tak cukup membawanya, bahkan tidak lagi cukup. Dan amal ini pastinya terlihat dan terdengar oleh orang-orang. Maka jika ada mashlahat (kebaikan) yang menuntut untuk menampakkan amal shalih, maka amal itu diperlihatkan untuk mewujudkan mashlahat itu saja, tidak lebih.

Hanya saja apabila seorang muslim atau muslimah menginginkan agar amalnya tersebut diikuti dan ditiru maka dia harus bersungguh-sungguh mengendalikan dirinya dan menundukkan hawa nafsunya, karena Syetan pasti akan berusaha memasukkan riya' atasnya. Wallahu A'lam. [PurWD/voa-islam]

| | Read More »